Selasa, 02 Agustus 2011

Hidupmu Hidupku 4 -Short Story-

HIDUPMU HIDUPKU 4

Sumpah mati aku cinta..
Cinta kepadamu..
Hanya dirimu..
Sungguh ku bisa gila..
Bila tanpamu..

(Sumpah mati-five minutes)

>><< 

“Ah gombal kamu. aku ngga percaya” ucap seorang gadis saat mendengar  pengakuan kekasihnya yang lebih dianggap sebagai rayuan belaka.

Kekasih gadis itu tersenyum. Sambil memegang  jemari gadisnya, Ia menimpali. “Yah terserah sih kalo kamu ngga percaya. Aku bisa kok buktikan ke kamu, kalo aku cinta, sayang, dan akan ngelakuin apapun untuk menjaga kamu”

Gadis itu mencibir. Kekasihnya masih berekspresi tenang. “Oke. Aku ulang lagi ya..Shilla, aku cinta sama kamu. kamu adalah anugrah terindah  dari Tuhan yang telah diberikan untuk aku. aku bakal menjaga kamu, aku akan setia sama kamu, aku ngga akan sakiti kamu, aku akan korbankan apapun agar kamu tetap disampingku. Karna..hidupmu itu juga hidupku”

Gadis yang  bernama Shilla, tersenyum mendengar pengakuan kekasihnya (lagi).
“Cuma bisa ngomong sih semua orang juga bisa Vin. Aku pengen bukti”

“Cuma itu yang kamu mau ? oke..siapa takut” selesai berkata, Alvin, begitulah lelaki itu disapa, bangkit dan melangkah menuju dapur cafĂ©. Sekembalinya, Ia membawa sesuatu yang Ia sembunyikan dibalik punggungnya.

“Apa itu Vin ?”tanya Shilla penasaran.

“Liat nih ya” bukannya menjawab, Alvin malah menyingsingkan lengan kemejanya, hingga menampakan lengannya yang putih. Lalu pemuda itu mengeluarkan benda yang sedari tadi disembunyikan di balik punggung.

Seketika,  aura cerah dari wajah sang gadis redup. Tak pernah dibayangkannya akan apa yang dilakukan kekasihnya dengan benda tersebut.

“Liat pisau ini ? kamu mungkin ngga akan percaya  kalau hanya dengan ucapan. Tapi, apa kamu percaya sama yang namanya…sumpah darah ?”

“Vin..jangan gila, oke..aku percaya sama kamu” balas Shilla sebelum hal yang tidak diinginkannya terjadi.

Alvin menggeleng. “Ngga. Liat…” selesai berkata, perlahan..Alvin menggoreskan pisau tersebut ke tangannya. Sekilas telah membentuk huruf ‘A & A’. ukiran huruf tersebut berwarna merah segar, yang berasal dari darah Alvin. tak ada ekspresi ketakutan atau kesakitan dari Alvin, pemuda itu nampak tenang, seolah olah Ia tengah menggambar tangannya dengan crayon, bukan dengan pisau.

“Stop !! udah cukup, aku percaya sama kamu” gadis itu mencegah, sebelum luka ditangan Alvin semakin besar. Alvin tersenyum dingin.

“Kamu tau kan ? aku ngga pernah main main dengan apa yang aku ucapkan”


>>><<< 

“Vin, kamu ada acara ngga ?” tanya Shilla di telpon.

“Ngga ada, free kok. Kenapa ?”

“Ke rumah yuk. Temenin aku..lagi repot nih” pinta Shilla. Sesekali terdengar kegaduhan yang berasal dari tempat Shilla.

“Shill, katanya sendirian ? kok rame banget sih..ada apa di rumah ?” tanya Alvin heran.

“Aduh Bastian jangan berantakin dong…” terdengar suara dari Shilla, bukan untuk  menjawab pertanyaan Alvin, melainkan seperti berbicara dengan orang lain.

“Maaf Vin..tadi kamu tanya apa ?” Shilla balik bertanya.

“Hmm..dirumah ada Bastian ya ?”

“Iya. Tadi tante Irma nitipin dia ke aku. repot banget jagain dia, nakal..makanya kamu kesini ya”

“Oke..aku kesitu secepatnya”

Setengah jam kemudian, Alvin sampai. 

“Shill, aku dat….” Belum selesai pemuda itu mengucap salam, sebuah benda melayang, mengarah ke dahinya.

BUUKK !

“..ahahahahaha…” saat itu juga muncul seorang bocah 5 tahun-an dengan tawa yang masih nyaring terdengar sembari sesekali menunjuk Alvin.

“Bastian !! jangan nakal ya kamu…” omel Shilla. Rupanya tadi robot mainan Bastian sengaja dilempar bocah itu. namun tak sengaja melayang dan mencium jidat Alvin.

“Ngga sopan tau ngga sih…kamu harus minta maaf sama Om. Cepet !” paksa Shilla. Tatapan gadis itu beralih kearah kekasihnya yang masih berdiri pada posisinya. “Maaf ya Vin. Maklumin aja, Bastian emang nakal banget”


Tak ada jawaban dari Alvin.

“Bastian, tante nyuruh kamu apa ?!! minta maaf sama Om Alvin kan ? ayoo cepetan minta maaf !!” kali ini, perintah Shilla makin keras. Sekilas terdengar seperti bentakan.

“Ngga mauuuuuuu !!!!” bocah plontos itu melarikan diri, menaiki anak tangga. mungkin bermain di balkon.

“Vin..maaf ya, maafin keponakan aku” ucap Shilla cemas. Apalagi saat melihat memar biru keunguan di dahi kekasihnya.

Alvin memberikan senyumnya. “Iya ngga papa. Wajar aja, dia kan masih kecil. Lagi bandel bandelnya. Aku juga punya kok keponakan seumuran Bastian”

“Hmm..makasih ya” ujar Shilla. Alvin melihat ada yang aneh dari wajah Shilla.

“Kamu kenapa Shill ?”tanya Alvin khawatir.

Gadis itu memijat pelipisnya. “Kepalaku pusing Vin..”

“Udah makan ?” sambil bertanya, Alvin membimbing Shila untuk duduk di sofa.

Shilla menggeleng. “Ngga sempet, karna aku harus jagain Bastian. Dia bandel banget”

“Cuma itu ? ckck..yaudah, kamu sarapan dulu, biar aku yang jagain Bastian” usul Alvin lembut.

“apa ngga ngerepotin ? kamu liat kan tadi, Bastian nakalnya minta ampun”

Alvin menggeleng sambil menyentilkan ibu jari dan jari tengahnya. “Itu mah gampang. Udah sana sarapan dulu. percaya deh, Bastian pasti nurut sama aku”

“halah beneran ya..oke aku sarapan dulu” Shilla melangkah kearah dapur. Sementara Alvin menaiki anak tangga, menyusul Bastian yang tengah bermain mobil mobilan di balkon.

Satu jam kemudian..

Gadis itu menaiki satu persatu anak tangga. baru saja Ia selesai menjalani ritual ‘mengisi perut’, lalu membereskan rumah yang sempat di obrak abrik makhluk kecil yang merupakan keponakannya sendiri. Shilla baru bisa melihat Bastian satu jam kemudian.

Aneh. Dari jaraknya sekarang, yang hanya tinggal 3 anak tangga lagi, Shilla tak mendengar suara apapun. Hening. Apa Bastian tidur ? ah tidak mungkin. atau..Alvin mengajak Bastian main di tempat lain ? itu juga tak mungkin. karna sedari tadi Shilla tak melihat keduanya menuruni tangga. karna penasaran, gadis itu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya.

“ayoo tanding lagi lawan Om, nanti kalo Bastian menang, Om mau deh jadi kudanya Bastian. Kalo Bastian kalah, Om boleh minta apapun dari Bastian. Deal ?” ucap sebuah suara yang terdengar lembut dan pelan. Dari tempat Shilla berdiri, Ia bisa melihat Alvin dan Bastian duduk membelakanginya. Keduanya tengah asik bermain mobil-mobilan.

“Vin…” sapa Shilla pelan. Alvin menoleh. Demikian juga dengan Bastian.

“Hei, udah selesai sarapannya ?”

Shilla mengangguk. “Udah”

“Bagus deh kalo gitu. Jadinya kamu ngga akan pusing lagi”

Dengan ekspresi heran, Shilla menunjuk Bastian dan Alvin secara bergantian. “Ummm…kalian ?”

“Liat kan ? aku bisa bikin Bastian nurut. Dari tadi kami asik main loh. gimana Bastian, enak kan main sama Om ?” tanya Alvin.

Tak ada jawaban dari bastian. Bocah itu terdiam untuk beberapa saat.
“Ummm..i..iya, e..enak ma..main sam..sama Om”

“Denger kan Shill ? sekecil apapun, seorang Alvin ngga pernah main main sama ucapannya”

Shilla tersenyum. “Iya iya aku percaya. Ak…”

Tap..tap..tap
Bocah tersebut berlari, menuju kamar Shilla yang terletak di samping balkon.

BRAK !
Dan membanting pintu, serta menguncinya.

“Bastian kenapa ?” tanya Shilla heran. Alvin mengedikkan kedua bahunya. Pemuda itu mencegah Shilla kala gadis itu melangkah menyusull Bastian.

“Udah biarin aja, mungkin dia kangen sama mamanya”

“Tapi Vin..”

“Udah, kita kebawah aja yuk” Alvin menggandeng Shilla menuruni anak tangga.

>><<< 

Alvin tak hentinya menatap tajam sepasang mata yang juga sedang menatapnya. Tatapan keduanya nampak sengit, dingin. Menggambarkan kebencian yang tertanam kuat dalam diri mereka satu sama lain.  Namun saat seorang gadis menghampiri Alvin, pemuda itu lebih memilih mengalihkan pandangannya.

“Vin..? kamu ngga papa ?” tanya Shilla.

Alvin melirik Shilla sinis melalui ekor matanya. “Kayanya kakak kamu beneran ngga suka sama aku ya ?”

“Maksud kamu ?”

“Tuh, pas dia nganter kamu. liat ngga ? matanya udah mau keluar gara gara melototin aku” sindir Alvin.

“Ya ampun Vin, kamu salah sangka. Ka Riko ngga kaya gitu kok. Dia bukannya ngga suka sama kamu, tapi dia itu…”

“Dia itu kurang suka sama aku ? oh aku tau, dia kan pengennya nyomblangin kamu sama si..sapa itu, Cak..Cakka, temen kecil kamu”

“ALVIN !!”

“Kenapa ? emang bener kan ?”

“Aku sama Cakka itu ngga ada hubungan apa-apa. Kami sahabatan sejak kecil. Dan kamu tau itu kan ?”

“Hei, dan kamu juga tau, kalo dia nyimpen rasa ke kamu !”

“Ya aku ngga peduli, toh aku sayangnya tetep sama kamu”

Alvin menatap Shilla. “Bener ?”

Shilla mengangguk.

“Janji kamu ngga akan pergi dari aku ?”

“Janji”

“Dan aku janji, aku bakal mengusik siapapun yang udah nyoba ngambil kamu dari aku” lirih Alvin.

>><<< 

Sore itu, Alvin mengajak Shilla jalan jalan ke pusat perbelanjaan. Pemuda itu minta ditemani untuk belanja kebutuhan harian. Maklum saja, Alvin sudah lama tinggal sebatang kara. Makan dan kuliahnya digantungkan pada uang warisan serta tabungan peninggalan kedua orang tuanya.

“Vin, emang kamu ngga takut gitu tinggal sendirian di rumah yang gede ?” tanya Shilla saat Alvin sibuk memilah milih barang.

“Ngga lah. Ngapain takut ? udah 5 tahun aku hidup sendiri” jawab Alvin seraya memasukkan satu kaleng kornet kedalam trolly.

“seenggaknya cari pembantu kek, atau siapa gitu yang bisa nemenin kamu”

“Buat apa ? aku bisa kok ngelakuin pekerjaan rumah sendiri. dan lagi kamu lupa ? kan ada Mbok Inah yang dateng setiap 2 minggu sekali buat beresin rumah. Kalo masak sih bisa aku tanganin”


Alvin mengambil alih trolly, lalu mendorongnya. Sementara Shilla melangkah mengiringinya. Swalayan tersebut cukup ramai. Sehingga banyak orang berlalu lalang dengan trollly mereka.

“Iyaa, tapi kan tetep aja kam…aww !!” pekik Shilla. Oh rupanya roda trolly yang dikemudikan oleh seorang lelaki kurus berkacamata tak sengaja melenggang bebas diatas kaki Shilla. Terang saja gadis itu memekik kesakitan.

“Shill kamu ngga papa ?” tanya Alvin cemas. Shilla tak menjawab. Gadis itu meringis menahan sakit. Alvin membungkuk dan melepas  pantofel  Shilla. Nampak luka memar kecil akibat tabrakan trolly tadi.

“Aduh..maaf ya mba, saya ngga sengaja” kata lelaki cungkring itu.

Shilla mengangguk,walau masih ada ekspresi  kesakitan diwajahnya. “Iya mas, ngga papa”

“Ngga papa gimana ? memar gini bilang ngga papa ??!!” ceplos Alvin keras. Semua mata pengunjung swalayan beralih ke mereka.

“Udah Vin, aku beneran ngga papa kok” Shilla menenangkan.

“Ngga bisa gitu dong, masa Cuma minta maaf doang sih !!”

“Eh mas, biasa aja dong. Denger sendiri kan cewenya bilang ngga papa, kok situ yang sewot sih ?” ujar lelaki berkacamata.

“Heh ! loe liat kaki cewe gue ? LIAT BAIK BAIK !!” bentak Alvin keras. Sembari mendorong kasar  kepala lelaki kurus itu supaya menghadap kaki Shilla.

“Liat ? masih bisa dibilang baik baik ?” tanya Alvin keras. Lelaki tersebut menatap Alvin aneh. Bukan hanya lelaki itu, tapi juga Shilla. Dan beberapa pasang mata milik pengunjung swalayan. Sebenarnya bukan masalah lelaki itu mau minta maaf atau tidak. bukan masalah seberapa besar luka yang terukir dipunggung kaki Shilla. Akan tetapi, reaksi Alvin saat gadisnya disakiti. Sungguh berlebihan mungkin ?

“Udah lah Vin..ngga enak kan diliat banyak orang. ayuk ah ke kasir. Udah selesai semua kan ?” demi mencegah sesuatu yang tak diinginkan, Shilla menarik tangan Alvin menjauh dari tempat. Pandangan mata Alvin masih saja menatap sengit lelaki itu.

>><<< 

“kamu tuh kenapa sih ? aku ngga pernah loh liat kamu seemosional tadi ?” tanya Shilla kala keduanya tengah berjalan beriringan keluar swalayan.

“Terang aja dong aku ngga terima, dia udah nyakitin kamu” sungut Alvin yang tingkat emosinya masih berkali lipat.

“dia ngga sengaja Vin. Aku ngga papa dan lagipula dia udah minta maaf” ucap Shilla.

“Ck, iya..tapi kan tetep aja dia salah. Kamu lupa apa janji aku ke kamu ? aku bakal selalu jagain kamu”

“Tapi kamu terlalu berlebihan. Ngga seharusnya kamu marah marah ga jelas sama orang tadi”

“Ah udah lah. Ngapain sih ngurusin dia” keduanya berdiam.

“Hei, Alvin kan ?” sapa seorang laki laki. Alvin menoleh ke sumber suara.

“Iya, gue Alvin. loe siapa ?”

“Loe ga inget sama gue ? Septian ?” ucap lelaki itu. Alvin memasang ekspresi berfikir. Tak lama, air mukanya berubah.

“Wei Bro, kemana aja loe ?” tanya Alvin seraya menyalami Septian.

“Gue nguli di Spore. Nih lagi liburan. Sekalian cuci mata, siapa tau aja ada cewe cantik di Jakarta. Ye ga ?” jawab Septian sekenanya. Pandangan laki laki itu beralih ke Shilla, yang notabene lumayan manis.

“Ehem..siapa nih Vin ?” tanya Septian sambil menunjuk Shilla dengan dagunya.

“Oh, ini Shilla. Dia…” belum sempat Alvin berucap, Septian sudah menyela. “Ck, manis juga. boleh dong kenalan” godanya sembari menoel dagu Shilla. Melihat itu, Alvin cepat meraih tangan Septian.

“Heh, jangan kurangajar loe !!” tegasnya.

“Aww..santai Vin, emang dia siapa sih ?” tanya Septian yang juga tengah menyembunyikan rasa sakit akibat cengkraman tangan Alvin yang semakin kuat.

“Dia..cewe gue”

“Oh, ya maaf deh kalo gitu, gue ngga tau” pinta Septian.

“Udah Vin” Shilla ikut-ikutan cemas.

“Maaf ? nih special buat loe..karna pertama, loe udah motong ucapan gue. kedua, loe udah kurangajar sama cewe gue..jaga tangan loe. rasain nih”

Kreeeekkk..

“Awww !! GILA LOE VIN !!” Septian meringis memegangi lengannya. Entah seberapa kuat Alvin memuntir lengan Septian hingga menimbulkan bunyi seperti tulang patah.

“Vin, kamu gila, tangannya patah !” ujar Shilla sambil berusaha menyamakan langkah Alvin yang semakin menjauh. Pemuda itu tak menggubris. Tetap melanjutkan langkahnya dengan pandangan mata lurus kedepan.

“Vin, apa sih yang terjadi sama kamu hari ini ? pertama, kamu kasar sama cowo di swalayan tadi. kedua, kamu muntir tangan temen kamu sendiri ?” Shilla mengajukan pertanyaannya lebih keras. Benar saja, Alvin menghentikan laju kakinya. Lalu menoleh ke Shilla.

“Inget janji aku untuk selalu jaga kamu ? dan kamu tau kan, aku ngga pernah main main sama ucapan yang keluar dari mulutku” lirihnya.

>><<< 

“Gue bingung Cak, sikapnya  Alvin akhir akhir ini aneh banget. Tau ga sih ? dia marahin dosen gara gara dosen itu ngehukum gue. terus, dia nonjok temen sekelas gue pas kami lagi bahas pelajaran. Dan yang paling parah loe tau ? dia nyaris nabrakin motornya ke Dhea, cewe yang tempo hari ngelabrak gue gara gara masalah kampus” curhat Shilla saat Cakka berkunjung ke rumahnya.

“Loe udah tanyain penyebabnya ?”

Shilla mengangguk. “Udah. Katanya dia ngelakuin itu untuk ngejagain gue. karna sebelumnya dia emang pernah janji buat selalu ada disamping gue, jagain gue”

“Terus ?”

“Gue tau Alvin ngga pernah main main. Dulu aja dia pernah nekat ngukir inisial nama kami berdua di lengannya pake pisau. Nah wajar ngga sih ?”

“Hmm..menurut gue Alvin itu terlalu posesif kali ya. dia pengen loe jadi miliknya, seutuhnya. Tanpa berbagi dengan siapapun. Makanya dia nyingkirin siapapun yang coba deketin loe”

“Iya, tapi yang gue ngga habis pikir itu caranya. Caranya yang..um..kasar. gue denger denger tangannya Septian patah, dan harus di gips. Keterlaluan kan Alvin ?”

Cakka menghela. “Gue tau kok perasaan loe. Loe pasti dilema kan ?”

“Entahlah Cak, awalnya gue kagum sama pribadi Alvin yang lembut. Tapi sejak kejadian di swalayan itu, gue jadi takut sama dia” lirih Shilla.

“Apa gue minta putus aja ya Cak ?” tanya Shilla.

“Terserah loe. Tanya sama hati loe, karna disanalah loe nemuin jawabannya” pesan Cakka. Shilla tersenyum tulus. “Makasih ya Cak, loe emang sahabat gue yang paliiiiing baik”

“Iyadong..sapa dulu. hehe. Udah, jangan sedih lagi ya” selesai  berkata, Cakka merangkul Shilla. Gadis itu meletakkan kepalanya di bahu Cakka.

Tidak, rupanya ada sepasang mata yang menatap pemandangan itu dengan dinginnya. Tatapan sengit, emosi bergemuruh dalam dirinya.

“gue ngga pernah main main sama ucapan gue” gumam Alvin. tanpa berfikir panjang, pemuda oriental itu turun dari Cagivanya, sambil menenteng helm dengan setengah berlari , Ia menghampiri gadisnya dan Cakka.

“Cakka” sapanya halus. Begitu Cakka mendongak..

BUKK !

Dengan gerakan cepat, Alvin memukulkan helmnya kearah wajah Cakka. Pemuda itu tersungkur, pipinya berdarah. Namun itu tak membuat Alvin puas, kembali Ia mendekati Cakka.

BUKK !

Satu lagi pukulan helm.

BUKK !

Saat Alvin akan melayangkan helmnya untuk yang ketiga kalinya ke wajah Cakka, Shilla keburu mencegah.

“STOP Vin !! stop !! helm kamu ngelukain Cakka” teriak Shilla. Permohonan gadisnya membuat Alvin membuang helmnya. Shilla menarik nafas lega. Dipikirnya dengan membuang helm, Alvin bakal berhenti melukiskan luka di badan Cakka. Ternyata…tidak.

BUKK !
BUKK !
BUKK !
Mungkin menurut Alvin, tak ada helm, bogem dan tendanganpun jadi. Cakka mungkin telah memasrahkan badannya di pukuli Alvin. namun Shilla, yang menjadi saksi kekalapan Alvin, masih mencari cara untuk menghentikan tingkah gila Alvin.

“Udah Vin !! pliss aku mohon berhenti..”

“Ngga !! dia udah brani meluk meluk kamu ? apa coba ? bakal aku kasih pelajaran dia !” satu tonjokan lagi. hendak Alvin sarangkan ke wajah Cakka yang mulai memerah karna darah. Dan ungu karna lebam.

Pemuda itu mengambil ancang-ancang untuk menonjok mangsa didepannya.
“Buat loe yang udah brani macem macem sama cewe gue !”

BUKK !
Bukan, bukan Cakka yang menjadi korban. Tapi, Shilla. Gadis itu tersungkur menyambut bogem langsung dari kekasihnya. Melihat Shilla terluka, Alvin menghampiri.

“Kamu ngga papa ?”

“Aku ngga mau liat kamu lagi” lirih Shilla. Gadis itu lalu membantu Cakka berdiri. Kemudian pergi meninggalkan Alvin yang mungkin, tengah menyesali apa yang Ia perbuat.

“Maafin aku Shill, aku lakuin ini hanya untuk ngelindungin kamu”

>>><<< 

“Pipi kamu kenapa ?” tanya Riko saat melihat adik perempuannnya tengah mengompres sudut bibirnya dengan air dingin.

“Ngga papa kok ka, Cuma kejedot pintu pas mau ke toilet” dusta Shilla. Riko menyernyitkan dahi. Pemuda itu berjalan mendekati Shilla. Lalu mengangkat wajah Shilla. Dan memperhatikan luka di sudut bibir adiknya.

“Jangan boong sama kaka. Memar ini kaya..bekas tonjokan” mendengar itu, Shilla cepat cepat memalingkan wajahnya.

“Ah kaka ini, ya ngga lah. Ditonjok siapa coba”

“Shill, jujur sama kaka. Alvin kan yang udah ngelakuin ini ke kamu ?” tanya Riko lirih namun tegas.

“Umm..”

“Dia juga kan yang udah mukulin Cakka sampe Cakka harus opname di rumah sakit ?” tanya Riko lagi.

“Ka, Alvin ngga sengaja, dia ngga bermaksud untuk…”

“Sengaja atau ngga sengaja, dia udah melukai kamu dan Cakka. Shilla..kaka kan udah bilang, Alvin itu ngga baik buat kamu. kamu ngga tau siapa dia ?”

“Kaka ngga pernah jawab pertanyaan aku setiap aku tanya siapa Alvin”

“Oke, gini ya..kamu masih inget, saat kaka ikut tawuran setahun yang lalu ?” Shilla mengangguk.

“Tawuran yang bikin temen kaka meninggal gara gara di tusuk sama lawan pake golok ?” Riko menyambung ceritanya.

“Dan kamu tau siapa pelakunya ?” Shilla menggeleng.

“Alvin”

Shilla terperanjat. “Ngga mungkin ka. Kaka gausah becanda deh. Alvin ngga mungkin terlibat sama hal kaya gitu”

“He’em..buat tambahan, Alvin itu ketua geng lawan kaka tawuran dulu. apa itu belum cukup ? demi kebaikan kamu Shill, putuskan Alvin sekarang juga”

“A..aku ngga bisa ka”

“Kenapa ?”

“Aku masih sayang sama dia”

“Tapi dia membahayakan kamu Shill. Dia itu gila” ucap Riko.

“Entahlah, aku masih belum percaya”

“Ck, terserah kamu. cape kaka nasehatin kamu” Riko berlalu. Meninggalkan Shilla sendirian.

>><< 

“Apa hak loe ngelarang gue jauhin Shilla ? dia sendiri ngga bisa jauh dari gue” ucap Alvin kala Riko mendatanginya, dan memintanya untuk menjauh dari Shilla.

“Jelas gue ada hak. Adek gue ngga boleh deket deket sama psikopat macem loe !”

“Jaga mulut loe. Yang psycho itu gue, atau loe ?”

“sesuka loe. Yang jelas, gue mau loe ngaca. Cewe macem adik gue itu pantesnya sama cowo yang berpendidikan kaya Cakka. Bukan cowo abnormal kaya loe. Paham ??!! gue tekankan lagi..JAUHIN ADIK GUE !” sebagai penghormatan terakhir sebelum pergi, Riko sempat mendorong kasar bahu Alvin, hingga pemuda itu menubruk sesuatu dibelakangnya.

Sepeninggal Riko, amarah membuncah dalam diri Alvin. entah apa yang ada dalam benaknya, Ia mendatangi satu tempat untuk menemui seseorang.

“Mau apa loe kesini ?” tanya penguasa tempat itu.

Alvin berlutut. “Buat gue babak belur”

>><< 

TING TONG..

Kreeeek..
“Eh tante Irma. Tumben kesini ga bilang bilang ?” sambut Shilla saat mendapati Tantenya dan Bastian telah berdiri di balik pintu.

“Iya, boring nih di rumah. Eh kok sepi Shill ? mana yang laen ?”

“Papah kan masih di Bangkok. Kalo mama udah berangkat ke rumah sakit. Terus ka Riko pergi ga tau kemana”

“Oh jadi sendirian aja kamu ?”

“Iya tan”

Shilla mengekor Tante Irma duduk di sofa.

“shill, tante mau tanya sesuatu sama kamu”

Shilla menaikkan satu alisnya “apa tan ?”

“Ada kejadian aneh ngga saat tante menitipkan Bastian tempo hari disini ?” tanya tante Irma serius.

“Maksud tante ? setau aku sih ngga ada Tan. Semua berlangsung biasa aja. Emang kenapa Tan ?”

“Aneh ya. sepulang dari sini, Bastian jadi beda. Apa ya ? tadinya kan dia hipperaktif. Eh pulang pulang langsung masuk kamar. Tante pikir dia sakit. Pas tante bawa ke dokter, katanya memang demam. Tante ngga sempet nanya ke kamu. karna tante pikir itu Cuma efek demam. Tapi ternyata saat demam Bastian sembuh, sikapnya ngga berubah. Jadi pendiam dan..lebih suka menyendiri. Kenapa ya ?” jelas tante Irma.

Shilla menyernyitkan dahi. “masa sih Tan ? umm..Bastian ngga mau ngaku ?”

Tante Irma menggeleng. “Tante sama Om udah bujuk sebisa kami. tapi tetap saja ngga berhasil. Coba kamu bujuk, mungkin dia mau buka mulut”

“Oke, Shilla coba ya Tan” Shilla bangkit dan menghampiri Bastian yang tengah bermain di gazebo.

“Dek, kamu kenapa ? kok daritadi diem aja ?” tanya Shilla lembut. Bastian menggelengkan kepala.

“Bastian kenapa sih ? oh..atau, Bastian pengen main lagi sama Ka Alvin ?” tak dinyana, mendengar Shilla menyebut nama Alvin, Bastian beringsut. Badannya bergetar. Mukanya nampak ketakutan.

“Loh Bastian kenapa ?”

“Ka..Ka Alvin ja..jahat sama aku”

“Jahat ? jahat gimana ? cerita sama tante” bujuk Shilla lembut.

>><< 

“Pas..pas Tian main di balkon..ka Alvin nyusul Bastian. Kata Ka Alvin, tante Shilla lagi sarapan. Terus ka Alvin ngajak Tian main. Awalnya tian ngga mau, tapi ka Alvin maksa. Ka Alvin ngeluarin piso dari saku celananya, terus gendong tian ke balkon, mau jatohin tian. Tian mau nangis tapi ga dibolehin sama ka Alvin. ka Alvin deketin pisonya ke Bastian. Katanya, Bastian harus nurut sama tante Shilla. Ngga boleh buat tante pusing. Ngga boleh nyusahin tante. Kalo ngga..kalo ngga ka Alvin bakal jatohin tian dari atas balkon. Terus ngelukain tian pake piso itu”

Shilla tak habis pikir mendengar pengakuan Bastian. Ternyata selama ini dia sudah salah sangka mengenal sosok Alvin. jelas Ia mempercayai Bastian. Mana mungkin anak seusianya berbohong ? dengan bermodal pernyataan itulah, Shilla memantapkan hati untuk menemui Alvin. dan memutuskan hubungan mereka.

TING TONG..

“Iya sebentar”  Setengah berlari, Shilla menuju pintu.

Kreeeeek..

“Astaga Alvin, kenapa sama kamu ?” pekik Shilla kala melihat kekasinya dalam keadaan yang tidak seharusnya. Lebam di wajah, pakaian yang lusuh, serta darah yang mengalir dari pelipis.

“Biarin aku masuk Shill, sakiiitt” pinta Alvin. Shilla memapah Alvin dan mendudukkannya di sofa. Gadis itu sempat mengambilkan air dingin dan alkohol untuk mengobati luka Alvin.

“Kamu kenapa bisa begini Vin ?”tanya  Shilla seraya mengoleskan kapas alkohol ke pelipis Alvin.

“apa salah kalo kita pacaran ?” bukannya menjawab, Alvin malah balik bertanya.

“He ? ya ngga lah. Emang kenapa ?”

“Apa salah kalo aku pengen terus ada disamping kamu ?”

“Ngga sal…”

“Apa salah kalo aku mencintai kamu lebih dari diriku sendiri ?”

“Vin..”

“Ini semua gara gara Riko. Riko datengin aku, dan minta aku buat jauhin kamu. aku ngga mau ninggalin kamu karna aku sayang sama kamu. dan aku janji aku ngga akan pergi jauh dari kamu. tapi Riko ngga terima sama keputusanku. Dia sama temen-temennya nyerbu dan ngeroyok aku. sampe begini” terang Alvin.

“Ngga mungkin..ka Riko ngga kaya gitu”

“Terserah kalo kamu..kalo kamu ngga percaya”

Dilema. Rada susah jika mengingat posisi Shilla sekarang. perlakuan Alvin terhadap siapapun yang mencoba mengganggu Shilla. Ditambah pernyataan Bastian. Sudah cukup meyakinkan siapa Alvin sebenarnya. Namun melihat kondisi Alvin sekarang, tak mungkin Ia berbohong.

“Ya, aku percaya. Nanti bakal aku tegur ka Riko”

>><< 

“Sumpah demi apapun Shill, kaka ngga ngelakuin itu !! kaka emang datengin dia, tapi sehabis bilang apa yang kaka mau, kaka langsung pergi. ngga nyentuh dia sedikirpun” protes Riko saat Shilla menyalahkannya.

“Tapi Alvin kesini dengan keadaan babak belur. Apa itu masih belum cukup untuk kaka ?”

“itu Cuma akal akalannya aja..ayolah Shill, dia licik”

“Ngga. Aku ngga percaya sama kaka”

“SHILL !!”

Shilla tak menggubris. Gadis itu mengambil tasnya, lalu keluar rumah. Melarikan diri dari perdebatan yang belum selesai.

>><< 

‘gue harus ke rumah sakit. Gue kudu curhat ke Cakka. Gue ngga tahan hadapain semuanya’ batin Shilla. Gadis itu menyusuri koridor bangunan yang identik dengan warna putih dan bau obat itu. hingga sampailah ke ruang VIP, tempat sahabatnya dirawat.

Selangkah lagi menuju pintu. Gadis itu mengurungkan niat begitu melihat apa yang ada didalam. Sesosok pemuda bertubuh tegap proposional, tengah berdiri membelakang pintu. Tangannya memegang bantal. Dari belakangpun Shilla paham betul siapa dia.

ALVIN.

Perlahan, Shilla membuka pintu ruangan. Agar terdapat celah supaya Ia bisa mencuri dengar apa yang dikatakan Alvin kepada Cakka yang masih terlelap.

“Gue tau loe ada rasa sama cewe gue. gue tau loe kenal sama cewe gue lebih dari gue. gue tau Cuma loe yang ngerti luar dalem cewe gue. tapi seberapapun istimewanya loe, ngga ada yang boleh gantiin posisi gue disamping Shilla. Cuma gue. gue janji sama diri gue sendiri, bakal nyingkirin siapapun yang coba rebut posisi gue. dengan cara apapun. Semua orang tau, gue ngga pernah main main dengan ucapan gue” ungkap Alvin. Shilla tersentak saat Alvin mengangkat bantal ditangannya keatas, hendak diarahkan ke kepala Cakka.

“Alvin..aku ngga nyangka” lirih Shilla. Sontak Alvin menoleh, lalu membuang bantal tersebut.

“Shill, ini ngga kaya yang kamu bayangin”

“Ternyata semua Cuma rekayasa ? semua palsu ? aku  salah nilai kamu” Shilla berlari keluar, airmata  tak sanggup tertahan olehnya. Sepanjang jalan, gadis itu menangis. menangisi kebodohannya memilih Alvin. gadis itu tak mempedulikan panggilan Alvin yang mengejarnya.

“Shill, aku bisa jelasin. Aku sayang sama kamu Shill. Itulah alesan kenapa selama ini aku over protectif ke kamu”

Gadis itu tak menanggapi. Ia masih berlari, menyebrangi jalan menuju halte diseberang.

“Shill, aku sayang kamu. plis maafin aku. buat aku, hidupmu hidupku..”

TINN..TINN..

Karna terlalu serius memohon ampun kepada Shilla, Alvin sampai tak sadar bahwa Ia berdiri di tempat yang kurang strategis, sehingga tak dapat dihindarkan pula saat mobil Kijang melaju cepat kearahnya.

BRAKK !

Shilla menoleh. Dan saat itu juga Ia sadar, mimpi buruknya akan segera berakhir.

-TAMAT-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar