Kamis, 15 September 2016

1943 Bersamanya

Juli  2015
                Aku masih melihatnya di posisi yang sama. Duduk di kursi roda kesayangannya sembari memandang keluar jendela. Entah apa yang menarik perhatiannya disana. Rumah kami terletak di pinggiran kota yang tidak terlalu bising. Rumah bercat putih berlantai 2 yang cukup luas. Mereka membelinya sekitar setengah abad yang lalu. Aku setuju apabila ada yang mengatakan rumah ini mengerikan. Lantai kayu dimana ada beberapa titik yang akan berderit apabila diinjak. Sisi kanan-kiri rumah yang tak terdapat satupun tetangga –tetangga terdekat kami jaraknya sekitar 5 km-. Di samping rumah terdapat tanah lapang yang cukup luas, yang 30 tahun belakangan menjadi media untuk menuangkan hobinya yaitu bercocok tanam.

                Ia tak pernah berubah. Tak ada yang berubah darinya selain rambutnya yang memutih, keriput di wajahnya, dan kemampuan panca inderanya yang menurun. Hanya itu. Selebihnya ia tetap pribadi yang sama.

Ia tetap Ify yang sama.

                Pemilik hatinya pun masih sama.
*

September 1943

                Suara gemuruh itu kembali terdengar. Disusul dengan teriakan manusia lainnya. Teriakan yang terdiri dari teriakan ketakutan, semangat, amarah dan histeris melihat sanak saudaranya terbunuh.

Suara bom meriam barusan terdengar kuranglebih radius 30 km dari fasilitas pengobatan di kampung ini. Walau jauh, tapi suara dahsyat tersebut cukup mampu memberikan efek pause kepada siapapun yang mendengarnya, termasuk Ify. Gadis cantik itu masih terpaku beberapa menit setelahnya. Dan baru tersadar kala seorang wanita yang merupakan rekannya sesama relawan, menjatuhkan gelas minuman.

“Kamu ini…mengagetkanku” protes Ify. Gadis yang dimarahinya hanya tersenyum lebar. “Maaf. Kamu sudah selesai?”

“Belum. Aku akan pulang nanti.. sekitar 2 atau 3 jam lagi”

Zevana-sahabat gadis itu- mendelik. “Kamu yakin?” Ify mengangguk. “Kalau kamu mau pulang, pulang duluan saja. Disini masih banyak yang membutuhkanku”

“Huh kamu menyindirku?”

Gadis manis itu hanya terkekeh kecil.

“Ya sudah aku pulang dulu. Eh, tapi kamu yakin berani pulang sendiri?”

Ify menoleh. “Kalau aku jawab tidak, kamu mau disini dulu menemaniku?”

“…. Baiklah demi keselamatan sahabatku tercinta. Aku disini 2 atau 3 jam lagi”

Keduanya bertukar senyum.

*
“Fy, bagaimana tawaran orang tua kamu mengenai perjodohan kamu dengan…. Ah siapa itu namanya” Zevana membuka percakapan dengan maksud agar tidak ada kesunyian yang terlalu mencekam dalam perjalanan pulang mereka. Maklum, tempat ini merupakan kawasan pedesaan terpencil yang hampir tidak ada kendaraan (mobil hanya dipakai untuk keadaan darurat) jadi tentu saja mereka harus jalan kaki untuk kembali ke camp.

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu. “Raden siapa ya. Namanya panjang sekali.. yang aku hapal itu awalnya Raden, belakangnya Ningrat”

“Walah kamu keterlaluan, calon suami sendiri ndak hapal”

“Dia bukan calonku, Ze. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Aku masih ingin menolong mereka. Masih ingin bermain denganmu. Masih punya banyak mimpi”

“Mimpi? Fy, aku ingatkan ya. Kita hidup di jaman seperti ini. Daerah ini belum dijamah saja kita sudah untung. Lagipula memang usia seperti kita sudah dipandang mampu berkeluarga”
Seulas senyuman manis terpatri di bibir gadis itu. “Aku ingin seperti pahlawan wanita kita, Ibu Kartini. Aku belum mau menikah muda, aku ingin memperjuangkan mimpiku, aku ingin membahagiakan bapak dan ibu dulu. Aku—“

“Ssh..”

Ify tak melanjutkan kalimatnya karena ada suara misterius yang menginstrupsi-yang sepertinya berasal dari semak-semak-. Ia menatap horor karibnya. Zevana, yang ternyata juga mendengarnya-dilihat dari ekpresinya-. Keduanya diam tak berkutik.

“Aw! Ssh..”

“Fy…”

“Ze”  keduanya kompak mengisyaratkan untuk mengambil langkah seribu sebelum melihat penampakan aneh.

“Ck, bodoh sekali aku!”

Kedua sahabat itu kembali saling berpandangan. Suara misterius tadi kembali terdengar. Dan lebih terlihat ‘normal’. “Bukan hantu, Ze”

Zevana hanya mengedikkan bahu. Ify mengambil inisiatif mendekat ke TKP. “Heh kamu mau kemana?” yang tak dihiraukan Ify. Gadis itu tetap berjalan mengikuti suara yang mulai ia yakini sebagai suara manusia.

“Aw..”

Ify yakin tinggal selangkah lagi menuju si pemilik suara. Ia singkapkan daun entah apa untuk melihat makhluk apa itu.

Mata mereka bertemu.
Detik itu semesta meyakini bahwa ia-lah pemilik hati Ify.

*
“Jangan bergerak dulu. Luka robekmu lumayan. Nanti kalau dibawa bergerak, tidak akan kering” tukas Ify. Pemuda itu hanya diam. Menatapi sosok perempuan yang telah menemukannya di semak-semak tadi dalam keadaan terluka. Perempuan ini jugalah-bersama temannya- susah payah memapahnya ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Ngomong-ngomong.. saya Lavender. Tapi biasa dipanggil Ify”

Tak ada permintaan jabat tangan. Karena si gadis mengucapkannya sembari membereskan sisa perban dan membuang kapas kotor. Membuat sang pemuda sedikit ragu untuk menjawab.

“Kalau kamu?”

“Saya belum terbiasa dengan perkenalan tanpa bersalaman” ucapnya tanpa memandang Ify. Sang gadis tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. “Saya Lavender. Biasa dipanggil Ify. Kalau kamu?”

“Gabriel”

*

Agustus 2015
               
                Batuknya tak kunjung berhenti juga. Aku mengusap-usap punggungnya iba. Aku yakin ia sudah tidak betah tinggal. Tapi aku belum siap melepasnya. Aku belum siap menyambut kepergiannya. Bila pemilik hatinya masih sama, maka akupun demikian.

Ify masih menjadi pemilik hatiku.

*

Desember  1943
               
                Hari ini fasilitas kesehatan tengah kebanjiran pasien. Korban serangan sang penjajah membludak sehingga cukup menyibukkan para relawan. Tak terkecuali Ify dan Zevana.  Luka robek di dahi, luka bakar di lengan, luka memar di tangan, tulang kaki yang patah, dan masih banyak lagi luka fisik yang didapat para warga. Pasiennya pun beragam, dari para pemuda pemberontak, hingga ibu-ibu dan anak mereka yang tidak tahu apa-apa.

Miris sekali, ingin rasanya semua ini berakhir.

Baru sehabis makan malam suasana barak sudah lumayan sepi sehingga Ify dan Zevana bisa beristirahat.

“Hari ini luas biasaaa” keluh Zevana sembari menyelonjorkan kedua kakinya, dan memijatnya pelan. Berbeda dengan Zeva, sahabatnya malah tampak berseri-seri. “Ada yang bahagia ya.. baiklah, baiklah aku akan diam saja dan menyimpan keluhku untuk diriku sendiri”

Ify memandang Zevana geli. Sahabatnya sungguh lucu kalau sedang merajuk.

“Iya, sahabatku tercinta… ada yang bisa aku bantu?”

Yang ditanya hanya menggeleng. Zevana menatap Ify dengan tatapan menyelidik. “Kamu…nanti pulang dengannya?” Ify mengangguk. “Itu artinya aku pulang sendiri?”

“Kecuali kalau kamu mau pulang bersama Lintar. Bukankah dia mendeketimu? Jangan dipikir aku tidak tahu”

“Jangan menggodaku, Lavender”

“Siapa yang-“

“Lavender, ada yang mencarimu” potong seorang pria berkumis penjaga barak. Pak Gito namanya. Mengintrupsi obrolan kedua sahabat itu. “Siapa, Pak?”

Pak Gito memutar bola matanya. “Ya siapa lagi kalau bukan Gabriel”
*

“Tanganmu kenapa” tanya pemuda itu kala melihat jari kelingking gadisnya tergores suatu benda.

 Gadisnya? Ya.. sepertinya kata itu sudah cukup menggambarkan bagaimana hubungan mereka saat ini. Perkenalan singkat, percakapan yang menarik mereka satu-sama lain, membuat keduanya cocok dan memutuskan untuk menjalin ikatan tak kasat mata. Mengukuhkan satu sama lain untuk saling menjaga dan melengkapi.

                “Cuma tergores gunting” jawab Ify sembari tersenyum. Seakan mengatakan kalau itu bukanlah perkara besar yang patut dikhawatirkan. “Cuma luka kecil”

“Tapi harusnya kamu lebih berhati-hati”

“Iya, aku tahu. Aku tahu apa yang aku lakukan, Yel. Kamu sendiri? Harimu bagaimana?
Gabriel menghela nafas. “Biasa saja. Goldi tetap sibuk menyusun strategi, Dayat tetap dengan kegemarannya membuat bambu runcing, Riko tetap di bagian medis, Deb—“

“Ck! Bukan itu maksudku..”

Pemuda itu terkekeh. “Ya aku harus cerita apa lagi. Memang itu yang aku lakukan setiap hari. Rencananya minggu depan kami akan mencoba melakukan pengintaian. Ya semoga saja bisa membebaskan beberapa warga”

Ify turut menghela nafas. Peralihan dari penjajah barat ke penjajah Asia ternyata sama saja. Tak ada yang mengira kalau nasib negeri ini sama buruknya, atau bahkan lebih buruk?

Gabriel bukan tentara resmi milik negara. Ia termasuk dalam gerombolan pemuda pemberontak yang mengintai markas penjajah guna membebaskan warga yang disekap dan dipaksa kerja (jangan tanyakan kerja apa saja). Pertemuan pertamanya dengan Ify pun tak lepas dari cerita penjajah. Dimana saat ia dan teman-temannya sedang melakukan pengintaian, musuh menyadari dan mereka melemparkan bom meriam. Yang untungnya, hanya melukai kakinya. Hey, dia masih beruntung kan?
Masa-masa yang keras dan kelam. Seluruh keluarga Gabriel dibantai oleh penjajah terdahulu. Gabriel tidak peduli penjajah sudah berganti, sekali penjajah tetaplah sama. Maka ia bertekad untuk berlatih beladiri sekuat tenaganya. Hingga akhirnya bertemu dengan Goldi cs, yang juga pemuda pemberontak.

Kehadian Ify mengubah hidupnya. Bagai ruang hitam yang baru saja dipasangi lampu dengan watt tinggi, hidup Gabriel tak lagi segelap dulu.

“Setelah masa ini berakhir, aku janji kita akan bersama lebih lama”

Janji itu diucapkan oleh Gabriel, ditujukkan untuk Ify, disaksikan alam semesta, dan dicatat oleh Tuhan.

*
September 2015

                “Pa?”

Aku tersenyum menyambut kedatangan putri sulungku, Ashilla. Dibelakangnya kulihat Alvin, suaminya beserta putri bungsu mereka, Keke. “Kakek” gadis remaja itu berhambur memelukku, yang tentu saja, kubalas dengan erat.  “Hai, Pa” sapa menantuku yang kubalas dengan senyuman.

“Bagaimana kabar Raynald?” aku menanyai putra sulung Ashilla yang tengah bekerja di Amerika. “Baik. Bulan depan dia pulang. Raissa belum kesini, Pa?”

Aku menggeleng. Raissa adalah putri bungsuku. “Semalem dia telpon, masih di Kupang. Urusan bisnis Cakka belum selesai”

 “Tapi dia tau kan sebentar lagi ulang tahun mama?”

“Tentu tau, dia bilang paling lama lusa dia pulang”

Ashilla mencibir. “Terlalu setia disisi suaminya”

“Ash..”

“Aku mau lihat mama. Dia dikamarnya?”

Aku mengangguk.

*
Januari 1944

“BODOH! TOLOL! INI SEMUA SALAHKU!

   Sudah hampir setengah hari Gabriel tak hentinya memaki, menendang, sesekali menangis. Sementara gadisnya duduk tak jauh dari sana. Menatapi iba kearah kekasihnya. Sengaja Ify biarkan pemudanya melampiaskan semua amarahnya.

“Sudah marahnya?”

                Gabriel tak menjawab. Ia terduduk lemas sembari meremas kepalanya kasar. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan tangisnya. Walau sesungguhnya ia tak perlu. Ify menyentuh pundaknya pelan, yang entah mengapa justru memperkeras tangis laki-laki itu.

                “Aku bodoh! Seharusnya… aku… menjaga mereka” Ify tak pernah melihat Gabriel serapuh ini. Gabriel yang ia tahu adalah sosok yang positif, semangat dan tak pernah memperlihatkan kelemahannya di depan Ify sekalipun. Melihatnya seperti ini membuat hatinya sakit. Andai menyembuhkan luka hatinya semudah menyembuhkan luka akibat percikan bom.

“Bukan salah kamu, Yel. Iya memang kalian harus saling menjaga. Tapi ini diluar kapasitas kamu. Mereka akan dikenang sebagai pemuda yang pemberani. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, bersedih boleh. Tapi jangan berlarut-larut. Aku yakin teman-temanmu disana masih ingin melihatmu berjuang”

                Gabriel masih tak bergeming. Kejadian semalam terus menghantuinya. Pengintaiannya bersama pemuda lainnya, ternyata bisa disebut gagal. Salah satu dari mereka membocorkannya kepada tentara lawan-demi uang- sehingga pasukanpun dengan mudahnya diserang. Yang menyebabkan hampir seluruh dari mereka tewas ditempat. Hanya 3 dari mereka yang kembali dengan selamat. Tiga orang yang diantaranya merupakan Gabriel sendiri.
               
                Satu hal yang gadis itu takutkan adalah.. kematian teman-temannya makin memperkeras hati Gabriel.

*
                “Lagi ya, Ma? Masa Cuma dua suap..” bujuk Ashilla lembut. Ia sudah duduk hampir 3 jam didepan sang mama untuk menyuapinya sarapan. Segala bujuk rayu tak membuat Ify menelan lebih banyak makanan lagi. “Oke, Aku nyerah” lirihnya.

Ashilla menatap Ify sedih. Mamanya tak seperti dulu lagi. Begitu banyak perubahan. Ia merindukan masa-masa dulu. Masa yang sangat berharga, yang mustahil untuk kembali lagi. Sepanjang yang ia bisa ingat, mamanya adalah sosok yang keibuan, lemah lembut, cantik, pintar memasak, dan tentu saja menyayangi keluarganya. Ify selalu punya cara untuk menenangkan anggota keluarganya jika ada masalah. Kelihatan sempurna, huh?

Tidak juga, karena cinta Ify kepada keluarganya tidak sebesar cinta Ify pada suaminya. Jangan dikira Ashilla tak menyadarinya. Tatapan mata Ify tak pernah seteduh itu saat bersama papa. Ify memang tak pernah bersikap dingin pada papanya. Tapi Ify hanya menganggap papanya sebagai teman hidup. Hanya teman hidup. Sementara Ashilla tahu bahwa Ify adalah cahaya hidup papanya.

*
Maret 1944

                “Kamu betul-betul harus pergi?”

Ify tersenyum. “Kamu betul-betul tidak mau ikut?”

Gabriel menghela nafas. “Kamu tahu aku ada—“

“Pengintaian? Ya..ya..  tapi aku ingin kamu ikut, Yel. Ini kesempatan untukku memperkenalkan kamu ke kedua orangtuaku”

Gabriel tersenyum melihat gadisnya merajuk. Diraihnya kedua tangan Ify. “Iya, kan masih ada waktu. Setelah ini aku janji aku akan ikut”

“Janji?”

“Janji”

“Janji kamu akan baik-baik saja?”

Pemuda itu masih dengan senyumnya. “Janji, Fy”

*

“Rio”

“Lavender”

“Lavender? Nama yang unik”

Gadis itu tersenyum. “Panggil saja Ify”

“Baiklah, Ify”

Keduanya pun tersenyum.

*
                Pemuda itu hanya menyisakan senyuman ketika Ify masih tertawa sambil memegangi perutnya. “Nama kamu sepanjang itu sampai aku lupa.. aku hanya ingat Raden dan Ningratnya saja”

“Yah.. aku tidak bisa protes karena itu pemberian orangtuaku. Jadi aku persingkat saja menjadi Rio” tukasnya.

“Siapa tadi nama lengkapmu?”

“Ify, aku bahkan sudah mengulanginya 4x. Masih belum hapal juga?”

Yang ditanya hanya menggeleng. “Belum hihi”

“Raden Bagus Indrawan Bumi Aryodiningrat. Aku rasa tidak sepanjang itu. Coba siapa nama lengkapmu?”

“Hanya Respati Ayu Diah Raventi”

Rio mengangkat satu alisnya. “Mana ada Lavendernya?” Ify tersenyum. “Jadi dulu aku suka sekali bunga lavender. Jadi ibuku mulai memanggilku dengan sebutan lavender. Lalu karena aku kesulitan menyebut lavender, jadi entah bagaimana keluarlah panggilan Ify”

                “Ah, sedikit aneh”

                “Kamu yang aneh”

                “Kurasa aku lebih suka memanggilmu, Raven?”

                “Jangan suka mengubah nama orang, Rio”

                Rio terkekeh kecil. “Fy, kamu setuju dengan perjodohan ini?”

“……”

“Fy?”

“Maksud kamu?”

*
                Aku menghentikan kursi rodanya di halaman rumah kami.  Membiarkannya meniup udara segar. Kemarin malam putri bungsu kami datang bersama suaminya, Cakka. Yang kuharap berkumpulnya keluarga kami akan membawa perubahan untuknya.

Aku merindukan senyum di wajahnya. Aku rindu suaranya memanggil namaku. Aku merindukan masakannya. Ah aku rasa aku rindu semua yang ada padanya. Jika bisa aku memutar waktu, aku tak akan menerima perjodohan ini. Aku tak mau merampas cahaya hidupnya. Aku tak mau menjadi sosok antagonis yang menjadi pemisah mereka.

Pemisah?

Ya, aku lah yang memisahkan mereka. Rio. Rio yang dipandang sebagai pemuda baik dimata Ify. Aku yang menyuruh orang-orangku untuk memata-matai kegiatan Ify saat ia menjadi relawan. Tentu aku tahu hubungannya dengan Gabriel.

Akulah orang yang membayar salah satu teman Gabriel untuk memberitahu lokasi pengintaian mereka selanjutnya. Sayang sekali pemuda itu lolos…

Saat Ify menolak perjodohan kami dan kabur menemui Gabriel, pemuda itu tak pernah kembali. Tentu saja, dia tak akan kembali. Karena aku yang melenyapkannya…

Maafkan aku, Fy..
Maaf…

-END-



*
                “



               

               
               
           

Kamis, 01 September 2016

Hujan Kemarin - One shot -



            “Kamu mau jadi pacarku?”

Aku menatap cemas gadis di hadapanku. Gadis yang sekian lama aku sukai. Gadis yang merupakan cinta pertamaku. Gadis yang membuat hatiku berbunga-bunga hanya dengan mendengar namanya. Gadis yang membuatku berlatih pengakuan hati di depan cermin.

Dialah Ify.

Gadis manis itu mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. “Maaf. Aku nyaman kita temenan”

*
Paduan suara vokal indah yang berasal dari finalist dan ex-finalist memenuhi panggung yang akan dijadikan tempat penyelenggaraan Grand Final ajang itu. Saat ini mereka sedang berlatih lagu Buka Hatimu kepunyaan Armada. Yang difokuskan dua grand finalist (Mario & Halilintar) sebagai vokal utama, sedangkan yang lain hanya back-up vokal.

Aku masih menangkap bayangannya dari ekor mataku. Kebetulan di lagu ini aku mendapat tempat di sisi kiri panggung, bersama dengan rekanku yang lain, Shilla. Dan tentunya, Ify.

*

 “Aku Ify, dari Bandung”
Aku tak pernah melupakan senyum manisnya. Kala itu aku masih berumur 10 tahun. Ia satu tahun lebih tua dariku. Kami dipertemukan dalam ajang ini, ajang pencarian bakat penyanyi anak-anak. Aku berasal jauh dari Batam. Tujuanku mengikuti ajang ini adalah untuk membahagiakan kedua orangtua dan adik semata wayangku.

            Sejak bertemu dengannya, aku tahu aku memiliki tujuan lain.
*
            “Nanti kamu jangan lupa senyum ya sayang”
            “Iya, Mah”
            “Harus kelihatan ramah di depan kamera, inget, muka kamu kalo lagi diem itu keliatan jutek banget”
“Iya, Mama sayang, Ify ngerti”

Aku tak bisa menahan senyumku. Dari tempatku sekarang, aku bisa melihatnya berdiri dengan wajah ditekuk. Tante Gina-mamanya- masih setia di posisinya sembari memberikan wejangan-wejangan kepada putrinya. Yang tentu saja direspon seadanya oleh Ify.

Saat ini kami berada di program musik di salah satu stasiun TV. Aku, dan teman-temanku yang tergabung dalam band project – SI Band- sedang menunggu waktu untuk tampil. Kebetulan, ia juga ikut dalam project ini. Menjadi keyboardist.

Kebetulan yang indah, bukan?

Jadi walaupun ajang itu sudah berakhir, aku masih mempunyai kesempatan untuk memiliki hari bersamanya.

Walaupun sebagai teman.

*

            Aku berjalan tergesa menuju kamar mandi. Kuabaikan panggilan Debo, rekanku yang mengatakan kalau beberapa menit lagi kami tampil. Tapi aku tidak peduli. Aku menulikan telingaku. Aku ingin sendiri dulu.

Aku tidak mau ada yang melihat ekspresi marahku
.
Selama ini aku dikenal sebagai sosok yang ramah dan ceria.

Dia, hanya dia yang mampu membuatku mengeluarkan ekspresi ini.

      Aku tak mendengarnya pacaran dengan lelaki lain, atau melihatnya berdua dengan seseorang. Sepele saja sebenarnya, jadi saat Band kami tampil, salah satu teman dekatku, Alvin bernyanyi sambil mendekatinya dan merangkulnya. Aku tak tau itu sengaja atau tidak. Tapi.. uh.. itu mungkin masuk dalam daftar hal yang tidak ingin aku lihat sepanjang hidupku.

*

            Kontrak kami dengan stasiun TV tersebut berakhir tahun ini. Itu artinya akan jarang sekali event-event yang mempetemukan kami.

Dengan tingkat pertemuan yang tak sesering dulu, aku mulai menata hatiku. Menjadi sosok yang baru. Menjadi pribadi seperti saat sebelum aku bertemu dengannya.

Aku ingin melupakannya. Jika ia lebih nyaman menganggapku sebagai teman, mengapa tidak demikian denganku?

*
            Tak kusangka akan sesulit ini menghapusnya. Aku berhenti mengirimkannya pesan-pesan singkat semenjak ia menolakku. Tepatnya sekitar 3 tahun yang lalu. Sejak itu terbangunlah dinding tak terlihat diantara kami, walau percayalah aku ingin sekali meruntuhkan dinding itu.


“Kamu sebagai Mahar, ya?” aku menerima naskah drama musikal itu, dan mulai membacanya. Bertemu teman-teman baru membuatku sedikit melupakannya. Terlebih ada Shilla dan Patton, rekan seperjuanganku dalam ajang itu yang ikut andil dalam drama musikal ini.
      
      Aku berlatih dengan giat agar sosok Mahar dapat kuperankan dengan baik. Aku mendapatkan banyak pujian, yang kuterima dengan senang hati. Ah.. lingkungan baru ini benar-benar membuatku nyaman.

Sebetulnya ada salah satu dari mereka yang menarik perhatianku. Pemeran Aling. Dia begitu manis dan sopan. Senyumnya mengingatkanku pada…

“Serius nanti lo kesini, Fy? Sama Via? Terus...? ah Zahra? Sama Ray juga? Asik. Oke gue tunggu. Bye” aku menegang kala mendengar Shilla menyebut namanya. Apa tadi katanya? Mereka akan kesini? Menonton kami?


Kuselesaikan kalimat terakhir kami sebelum ditutup dengan salam hormat dari seluruh pemain. Dari tempatku berdiri, mataku masih berusaha menyisir bangku penonton, berharap menemukannya. Ah, aku melihat Sivia. Itu artinya ia tak jauh darinya. Sivia, Zahra, Ray, dan.. itu dia! Dia juga sedang melihat kearahku. Aku tak bisa menahan untuk tak tersenyum. Ia pun melempar senyum padaku.
Hari keberuntunganku, eh?

*
            “Dia.. jadian sama temen sekolahnya. Namanya….” Mataku yang semula menahan kantuk kini terbuka lebar. Memang sudah menjadi rutinitas kami –para alumni ajang tersebut- untuk ngobrol di grup Yahoo! Messanger setiap Rabu dan Jumat malam-untuk menjaga silahturahmi-. Semula aku ingin istirahat saja karena terlalu lelah dengan kesibukan sekolah. Tapi karena bujukan teman-temanku akhirnya aku rela online dan melupakan lelahku.

Obrolan kami rata-rata selalu sama. Kabar bagaimana, sibuk apa, sudah punya pacar atau belum. (Yang mana pertanyaan terakhir aku berharap tak ada kabar darinya).

Harusnya aku tau ini akan menjadi salah satu hari burukku. Pertama karena aku sedang tidak mood untuk online (biasanya aku salah satu yang paling bersemangat). Kedua, karena kulihat ia tidak online (banyak sih yang offline. Seperti Sivia, Shilla, Cakka, Oik, lalu ada beberapa lagi). Dan ketiga, saat salah satu temanku Irva mengetikkan pesan yang tak ingin aku lihat seumur hidup.

Ify. Punya. Pacar.

*

“Ciee..pajak jadiannya ditunggu”

“Longlast ya”

“Cocok banget tau kalian”

“Ehm..ehm lo udah gede ternyata”

Aku merespon semuanya dengan senyuman. Kuanggap kalimat mereka sebagai doa. Ya, doa semoga aku dengan Saras awet sehingga aku bisa melupakannya. Semoga aku juga bahagia selepas mendengar berita ia memiliki pacar. Semoga aku bisa menghapus perasaanku.

Aku tidak bermaksud jahat pada Saras, tapi tak apa kan ‘kugunakan’ dirinya untuk melupakannya?

*

            Saat detik berganti menit.

            Saat menit berganti jam.

            Saat jam berganti hari. Begitu pula dengan hari yang berganti bulan dan bulan menjadi tahun. Kulalui hari-hariku dengan kesibukan sekolah dan pekerjaan. Kufokuskan waktuku bersama keluargaku. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Tanpa kekasih, walaupun ia tetap menjadi kekasih hatiku.

Aku sudah lama memutuskan hubunganku dengan Saras. Lalu menjalin hubungan dengan beberapa perempuan. Catat, aku bukan playboy.

Sementara dirinya, ia masih dengan rutinitas favoritnya. Menjadi pemusik. Bergabung dalam sebuah girlband membuatmu semakin mudah ‘melihatnya’.

*
 “Mau ada reunian nih, dateng ya!”
Sender : Dayat

            Aku letakkan ponselku diatas kasur. Hmm reuni. Itu artinya aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, setelah sekian lama. Kini usiaku sudah 25 tahun. Dan sudah menjadi pengacara muda di Jakarta.

Tak ada yang berubah dariku, termasuk perasaanku kepadanya.

*
            Aku memasuki café yang menjadi tempat kami mengadakan reuni. Kulemparkan senyumku kearah beberapa teman yang sudah datang. Dayat, sang pengusung reuni. Ada juga Septian –yang datang bersama kekasihnya-, lalu ada Osa, Iyan –hey dia tinggi sekali-, Irva –dengan kekasihnya juga-, Zahra, yang sepertinya sedang tergesa-gesa menuju toilet. Di sisi lain meja ada beberapa ex finalist dari ajang musim kedua dan ketiga, Debo, Patton, Gita, Irsyad, Bastian, Cakka –dengan rambut gondrongnya-, juga Rio, Keke dan beberapa yang lain –ada yang bahkan aku lupa siapa namanya-.

Dari sekian banyak yang datang, aku menghela kecewa. Tentu saja dia tidak datang. Dia kan sibuk, punya segudang schedule yang lebih penting daripada menghadiri acara reuni yang—

            “Hey”

Refleks aku menoleh.

            “Oh.. hai…” balasku canggung. Tenggorokanku mendadak kering. Ify berdiri di belakangku dengan baju casual –yang menurutku sangat cocok untuknya- dan bandana putih manis. Ah dia cantik sekali.

“Udah lama?”

Aku menggeleng. “Baru aja”

“Banyak juga yang dateng” ucapnya sembari melihat sekeliling. Dan melempar senyum ke beberapa teman kami. “Aku kesana dulu ya”

Aku menatapnya melenggang kearah meja Zahra. Meja dengan kapasitas 5 orang itu sudah terisi Zahra, Patton, Dayat, ditambah Ify…berarti masih bisa 1 orang lagi?

            “Eh eh itu buat Irva” sela Zahra saat aku duduk di salah satu kursi. “Yaelah.. Irva kan sama pacarnya. Mana muat mereka duduk di satu kursi” elakku. Kudengar tawa kecil lolos dari bibirnya. Aku ikut tersenyum kearahnya.
“Ih, ya udah”

Sepanjang acara –yang kebanyakan permainan- mataku tak pernah lepas dari sosoknya. Beberapa dari kami menyumbangkan lagi, termasuk aku. Bahkan aku mendapat kesempatan berduet dengannya karena usulan Shilla –thanks, Shill!-.

Sering-sering saja diadakan reunian seperti ini, hahaha!

*
Acara reuni selesai pukul 21.45 malam. Lebih malam dari jadwal perkiraaan yang semula direncanakan selesai jam 20.00. Sebagian teman-teman sudah pulang. Hanya tinggal aku, Rio, Zevana, Angel dan Ify. Aku memang sengaja belum pulang sebelum ia pulang.

Kusandarkan punggungku di salah satu kursi café. Kulihat ia tengah berbincang berdua dengan Rio diiringi beberapa tawa yang keluar dari bibir tipisnya. Mendadak bayangan fanfiction-fanfiction Rio-Ify yang dibuat fans kami dulu muncul di otakku. Aku memang beberapa kali membaca cerita fiksi karangan mereka (yang mana kebanyakan aku membaca cerita ku dan dia tentunya). Tak kusangka fans kami kreatif sekali.

“Duluan ya, Fy. Yuk, Ze” Rio menyudahi obrolannya. Lalu pamit kepadaku dan Angel juga sebelum pergi keluar café bersama Zevana.

“Eh gue udah dijemput. Lo gak mau ikut gue, Fy?” ajak Angel. Ify gelengkan kepalanya. “Nggak, sopir gue udah dijalan. Hati-hati, Ngel”

Angel mengangguk dan berpamitan padaku juga. “Gue nitip Ify yaa. Byee”

Yah, tanpa dimintapun aku akan menjaganya sepenuh hatiku.

*
“Maaf, kami mau tutup” tegus halus salah satu karyawan café. Memang ini sudah hampir jam 22.00. Dan hanya tinggal aku dan Ify. Aku menatapnya yang duduk di meja tak jauh dari posisiku, mengisyaratkannya untuk pindah keluar. Ia mengangguk.

Ironis ya, walau tinggal kami berdua pun, ia masih menjaga jarak.

Aku mengiringinya keluar café. Diluar mendadak hujan deras sekali. Yang merupakan keberuntungan bagiku karena itu menahanku untuk bersamanya walau hanya sebentar.

“Tinggal pulang aja pakai hujan” ucapnya seraya merapatkan scraftnya. Terbawa sinetron, kulepaskan jaketku dan kuletakkan di pundaknya. “Eh gak usah”
Kulemparkan senyumku.

Hening. Kami sama-sama hanya diam berdiri di depan café yang sudah tutup sembari menatap hujan.

“Sopirku lagi cuti”

Eh? Aku menoleh kearahnya. Bukankah tadi dia bilang kalau supirnya sedang di jalan?

Matanya memandang kedepan. “Kamu kenapa jauhin aku?”

Apa katanya?

“Aku nunggu kamu”

Aku tidak salah dengar, kan?

“Kamu gak pernah kasih aku kesempatan buat memperbaiki semuanya”

Aku tersenyum tipis. “Kamu sendiri yang bilang kita lebih nyaman temenan”

“Tapi kamulah yang memutus pertemanan kita”

“Karena aku gak mau buat kamu gak nyaman”

“Siapa bilang aku gak nyaman?”

“Karena kita gak akan sama setelah aku nyatain cinta ke kamu, Fy” Ify mendelik kearahku. Aku menghela nafas lagi. “Lagipula aku milih mundur sejak kamu punya pacar”

“Pacar??”

Aku menoleh kearahnya. Herannya ia tampak keheranan. “Iya, pacar. Kata Irva kamu jadian sama temen sekelas kamu dulu”

“…. Aku belum pernah pacaran sama siapapun, sampai sekarang”

“…..”

“Lalu kamu dan Saras, itu apa?”

Mendadak aku kehabisan kata-kata. Tak mungkin aku jelaskan bahwa aku berpacaran dengan Saras hanya untuk melupakan Ify.

“Aku bakal percaya kalau kamu udah bisa move on”

Aku menggeleng cepat. Tapi tak ada kata yang terlepas dari bibirku.

“Aku pernah menyukai. Kami ada di dalam satu ajang pencarian bakat. Dia finalist dari kota yang jauh disana. Dia teman yang baik, dia memberi aura positif di sekitarnya” kusunggingkan senyuman tipis. Eh, memang itu aku ya?

“Aku belum pernah merasakan yang seperti itu sampai sekarang. Perasaan itu masih, sampai saat ini” dia menyampingkan tubuhnya, menatap kearahku. “Dia juga memiliki perasaan yang sama, dulu”

Sungguh, aku merasa dadaku akan meledak saking bahagianya. Seperti ratusan kupu-kupu berterbangan di perutku kala aku rasakan tangannya meraih tanganku. “Sayang aku dan dia gak bisa bersama”


“….. kenapa?”

“Kita berbeda. Kamu tau pasti apa maksudku. Kita sama-sama berpegang teguh dengan apa yang kita yakini saat ini. Aku bener, kan?”

Aku terdiam lagi. Sekarang aku tau alasannya ia menolakku dulu. Tapi aku membenarkan apa yang ia katakan barusan. Kami memang berbeda.

“Kita tetap teman, kan?”

Aku menatapnya lama. Kuberanikan diri mengecup keningnya. “Ya, kita teman”

Ia tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya yang lain, mengajakku bersalaman. “Aku Ify. Salam kenal”

Tanpa bisa dicegah aku pun turut tersenyum dan menyambut uluran tangannya.

“Gabriel..”

-END-