Selasa, 02 Agustus 2011

(Bagai) Romeo & Juliet -Short Story-

Pesta mewah dan meriah. Itulah yang ada dibenak orang orang ketika menginjakan kaki di area pesta. Para tamu undangan sudah hampir separuhnya memenuhi aula ruang keluarga Haling. Sebuah kue ulang tahun bertingkat 3 dengan dihiasi angka 18 sudah berdiri kokoh diantara kerumunan tamu. Pesta siap dimulai. Tinggal menunggu kedatangan sang putri Haling yang berulang tahun ke 18. Ya. Pesta itu sengaja diadakan keluarga Haling untuk memperingati usia putri mereka, Ashilla Zahrantiara Haling.

Keluarga Haling salah satu keluarga konglomerat yang sukses baik di dalam maupun diluar negeri. Relasi bisnisnya tak terhingga banyaknya. Tersebar diseluruh pelosok negeri. Tak heran bila nama Haling begitu tersohor. Keluarga Haling berjumlah 4 orang. ayahnya bernama Riko Anggara Haling. Istrinya bernama Angelica Martha Haling. Seorang anak lelaki berumur 20 tahun bernama Mario Stevano Aditya Haling. Dan adik perempuannya, Ashilla Zahrantiara Haling.

Tak jauh dari kerumunan tamu, terlihat beberapa orang perempuan dan laki laki yang mengenakan pakaian seragam berwarna putih. Itu adalah pelayan cattering yang sengaja disewa Pak Riko untuk melayani undangan putrinya.

Dua dari beberapa orang disana sedang terlibat percakapan asik sembari menuangkan minuman ke dalam gelas.

“Vin, loe ngapain sih dari tadi celingak celinguk ngga jelas ??” tanya Deva, teman seprofesinya.

“Hah ?? Ngga kok. Mm..kok pestanya belum mulai mulai ya ??” Alvin—pemuda yang ditanya—malah gelagapan begitu ditegur Deva dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kayanya bentar lagi. Kenapa ?? penasaran ya sama putri Haling ?? katanya dia cantik banget lho Vin” ucap Deva.

“Masa ?? gue belum pernah liat”

“Pokoknya nanti loe bakal terpesona deh”

Alvin menatap sinis Deva. “Sotoy loe”

Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan setelah mendapat tatapan tajam dari Rio, Putra Haling. Jam 8 tepat. Lampu padam. Undangan tidak terkejut karna mereka sudah tau bahwa ini petanda pesta akan dimulai. Mereka serempak menoleh kearah tangga. begitu pula dengan kedua pelayan tadi, Alvin dan Deva.

Dari arah tangga, turunlah seorang gadis ayu dengan gaunnya berwarna putih. Semua mata terpesona menatap sang putri yang tersenyum ramah pada tamunya. Tidak terkecuali Alvin. Matanya tak berkedip memandang sosok yang berjalan pelan menyusuri tangga. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis kala kedua mata mereka bertemu.

“Cantik” lirih Alvin.

“Vin..Alvin..hello ??” Deva menggoyangkan telapan tangannya didepan wajah Alvin. Sontak pemuda tersebut menggelengkan kepala, bermaksud menghilangkan pikiran kosongnya.

“Hah iya ??”

“Napa loe ?? asik banget melongin dia. Gue bilang juga apa. Naksir naksir dah loe” sindir Deva.

“Hehe”

“Nyengir lagi loe”

“Udah yukk kerja”  kedua pemuda itu kembali dengan pekerjaannya. Alvin membawa sebuah nampan berisi sebuah gelas. Dia berjalan kearah Shilla yang sedang asik ngobrol dengan tamunya. Tinggal selangkah lagi mencapai Shilla, gadis itu dihampiri seorang lelaki yang menariknya menjauh dari tamu tamu. Belakangan alvin ketahui bahwa lelaki itu bernama Septian Putra Manuel. Anak pengusaha batubara yang akhir akhir ini dikabarkan dekat dengan Shilla. Pemuda tersebut meletakkan nampannya di meja. Penasaran, dia ikuti kemana Septian membawa Shilla pergi.

“Happy Brithday Beibh” ucap Septian. Mereka menuju balkon yang terletak di sebelah ruang keluarga di lantai 2. Alvin memperhatikan dibalik tembok.

“Iya thanks. Tapi..jangan panggil aku kaya gitu dong. Risih” tolak Shilla halus.

“why ?? bentar lagi kan kita married. Kamu bakal jadi milik aku, begitu juga sebaliknya” tangan Septian menggenggam jemari Shilla. Gadis itu tampak risih.

“Ehhmm…tapi kan belum tentu. Eh tadi papa nyariin kamu tuh” kata Shilla.

“Ohya ? yaudah aku ke bawah dulu ya beibh” sepeninggal Septian, Shilla mengusap usap bekas pegangan Septian di telapak tangannya.

“Jangan diusap. Nanti kulit nona jadi merah” seru seseorang. Shilla menoleh. Alvin berjalan sembari tersenyum mendekatinya.

Shilla membalas senyum Alvin. “Hehe..eh kok kamu ada disini ??”

“tadinya saya mau ke toilet, tapi pas lewat sini, kebetulan liat nona sendiri. Yaudah saya samperin. Ngga papa kan ??”

Shilla mengangguk. Dalam hati dia geli juga. gadis itu tau kalo Alvin berbohong. Jelas jelas semua pekerja tau letak toilet itu ada disebelah dapur. ‘nih cowo ngga bakat banget boongnya. Hihi’ batin Shilla.

‘Ck..bidadari’ batin Alvin yang sesekali curi pandang kearah Shilla.

“Eh, kerja gih. Atau mau disini aja ?? aku harus kebawah. Acara potong kue” ujar Shilla.

“Saya turun aja non”

Shilla turun kebawah diikuti alvin. Sampai dibawah, undangan sudah melingkari kue ulang tahun. Ayah, bunda, Rio, dan Septian berdiri paling dekat dengan kue. Shilla memposisikan dirinya diantara keluarganya.
“first cake aku buat…..papa sama mama. Thanks ya udah sayang sama Shilla” Shilla memberikan potongan kue pertama pada kedua orang tuanya.

“Oh makasih sayang” balas Pak Riko dan Bu Angel. Potongan selanjutnya untuk Rio, kakaknya. Selanjutnya untuk teman temannya.

“Shill, buat aku mana ??” tanya Septian.

Shilla menepuk jidat. “ya ampunn…sori Yan, aku lupa. Hehe..maaf ya. Tapi kuenya udah abis. Gimana dong ??”

Septian manyun. Shilla tersenyum kesenangan. Sementara Alvin yang berdiri ngga jauh ikut geli juga memperhatikan tingkah Putri Haling. Pandangan mereka kembali bertemu. Pipi Shilla bersemu ketika mengetahui tingkahnya diketawai alvin.

Selepas pesta..

“Vin yukk cepet balik. Udah selesai kan semuanya ??” ajak Deva.

“bentar Dev, ada yang ketinggalan” cegah Alvin.

“Beuhh..yaudah deh gue tunggu di mobil sama yang lain ya. Jangan lama lama” pesen Deva. Mobil kantor yang menjemput para pekerja sudah datang. Tapi Alvin ngga berniat pulang. Selesai berganti pakaian, dia mengendap endap menuju taman belakang. Kebetulan disana ada semacam tanaman berakar yang akarnya menjuntai dari lantai atas ke bawahnya. Alvin menaiki akar tersebut dan menarik tubuhnya keatas. Sampai di balkon yang masih belum tertutup.

Alvin terpaku pada pemandangan didepannya. Seorang gadis cantik luar biasa. Berada dekat dengannya.

“Argh !!” pekik Shilla ketika mendapati ada orang lain yang tengah berdiri di balkon kamarnya. Alvin cepat cepat membekap Shilla agar teriakan gadis itu ngga mengundang orang lain.

“Sssttt..jangan berisik” pinta Alvin. Shilla mengangguk.

“Mau ngapain kamu disini ?? lancang banget. untung aku ngga lagi ganti baju” omel Shilla.

“Maaf non, saya diperintahkan Tuan untuk memastikan apakah nona Shilla sudah tidur atau belum” aku Alvin.

Alis Shilla terangkat satu. “Disuruh papa ?? aneh banget. Biasanya ngga ada kaya beginian. Ato jangan jangan…kamu maling ya ?? Ihh aku bilangin papa nih” Shilla berbalik dan mengambil ancang ancang keluar kamar. Tapi dengan sigap, Alvin mencegahnya dengan menarik tangan Shilla. Sehingga keduanya berjarak sangat dekat. Gadis itu terdiam. Menatapi ketampanan lelaki didepannya. Sementara Alvin tersenyum tipis. Tangan yang satunya mengikuti lekuk wajah Shilla. Mendekatkan wajahnya ketelinga  Shilla.

“Saya hanya ingin menikmati kecantikan nona dari dekat..” bisik Alvin. Kemudian ia jauhkan wajahnya dan melangkah pergi. Sebelum menuruni akar seperti tadi, Shilla keburu memanggilnya.
“Eh tunggu, nama kamu siapa ??” tanya Shilla.

Alvin berbalik dan tersenyum. “Alvin. Alvin Jonathan”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Ka, Shilla minta alamat cattering yang dipesen papa kemaren” bujuk Shilla keesokan paginya. Gadis itu sibuk menggoyangkan lengan Rio dengan manja.

“Aduh buat apa sih dek ??”

“Adalah kepentingan. Ayolah Ka Rio..kaka baik deh. Ntar Shilla comblangin sama Ify” Rio mendelik. Kalo sudah berhubungan dengan Ify, pemuda itu langsung luluh. Ify adalah teman Shilla yang kebetulan menyukai Rio, begitu pula sebaliknya.

“Beneran ya ?? yaudah bentar, kaka cari alamatnya” Rio bangkit menuju kamarnya.

“Yeah !!” sorak Shilla. Ngga lama kemudian, Rio muncul.

“Nih kartu namanya”

“Makasih ya kaka. Kaka emang kakakku yang paling ganteng. Malem minggu besok jangan lupa jemput Ify jam 4 sore. Oke oke ??” Rio mengacak acak poni adiknya karna gemas. Dia memang sayang sekali pada adik perempuannya itu.

“Yaudah Shilla pergi dulu ya Ka” pamit shilla. Gadis itu keluar dengan mengemudikan Suzuki Swift ungu miliknya.

Suara langkah dari seorang gadis yang tak biasa menarik perhatian para pekerja disana. Tapi tampaknya Shilla ngga memperhatikan. Dia sibuk mencari sang pemilik.

“Non ada keperluan apa sama Alvin ??” tanya Ibu Hera, pemilik usaha cattering.

“Dia udah bikin kesalahan sama saya Bu, saya bener bener harus ketemu sama dia” tegas Shilla. Bu Hera kira, gadis itu marah pada salah satu pekerjanya. Dengan cemas, ia panggil Deva yang kebetulan lewat di dekat situ.

“Deva, panggilin Alvin. Cepet !!”

“eh iya Bu” Deva ngga mengetahui bahwa yang memanggil Shilla. Karna saat berpapasan, posisi Shilla membelakangi Deva.

Dengan malas malasan, Alvin berjalan menuju kantor Bu hera.

“Ada apa sih Bu ??” tanya Alvin cuek. Bu hera menunjuk Shilla dengan dagunya. Shilla menoleh. Alvin terbelalak.

“Yaudah Ibu tinggal dulu ya Non” pamit Bu Hera melangkah keluar meninggalkan Alvin dan Shilla dalam ruangannya.
“Nona ??? apa keperluan apa non ??” tanya Alvin sopan.

“Kamu ngga sadar kalo kamu punya salah ??” tanya Shila serius.

“salah ?? salah apa ??”

“Semalem kamu udah berlaku ngga sopan sama saya. Dan saya mau, kamu menebus kesalahan kamu”

“Akan saya tebus. Apapun saya lakuin supaya Nona maafin saya” sesal Alvin.

“Saya mau maafin kamu asalkan….”

“Asalkan ??”

“Ajak saya jalan jalan” tawar Shilla.

Mata sipit Alvin membulat. “Apa ?? serius non ??”

“Iyalah..mau ngga ??”

Alvin mengangguk.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Seharian ini Alvin menemani Shilla jalan jalan kemana gadis itu membawanya. Memancing, shopping, pergi ke Dufan, outbond. Hingga keduanya kelelahan sendiri. Danau hijau menjadi tempat terakhir kunjungan mereka.

“Huaaa cape banget. Tapi asik jalan sama kamu” ujar Shilla.

“Saya juga seneng bisa jalan sama Non” tutur Alvin.

Shilla menoleh, memperhatikan wajah Alvin. Dia mendekatkan wajahnya hingga dekat sekali dengan Alvin. Tangannya mengikuti lekuk wajah Alvin seperti yang dulu Alvin lakukan padanya. Shilla membisikan sesuatu ke telinga pemuda itu.

“Ijinin saya menikmati ketampanan kamu dari dekat”

Alvin terkekeh. “Haha si Non ngga kreatif banget. Ide saya dicontek. Dasar plagiat” sontak, Shilla langsung menjauhkan dirinya dan mendorong bahu Alvin.

“Ihh kok kamu kaya gitu ?? gasuka ?? yaudah aku pergi” Shilla hendak bangkit tapi lagi lagi tangannya dicegah Alvin.

“Yeee ngambek. Non ngga asik ah. Iya deh saya minta maaf” Shilla kembali pada posisinya.

“Kamu tampan Vin. Aku tertarik sama kamu” aku Shilla jujur. Alvin menoleh.

“Saya jauh lebih tertarik sama Non. Tapi masalahnya, apa pantas pekerja cattering seperti saya berada disamping putri Haling ??”

“Ssttt…” Shilla menempelkan telunjuknya dibibir Alvin. “Jangan diterusin. Aku terima kamu apa adanya. Aku ngga pernah mencari cinta berdasarkan materi, tapi hati”

Alvin tersenyum.

“Dan satu lagi, jangan panggil aku ‘nona’ lagi. Aku bukan majikan kamu, tapi aku ratu dihati kamu”

“Makasih bidadari” mereka berdua berpelukan.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Apa ?? loe macarin Putri Haling ??? haha ngga usah ngkhayal deh Vin. Selera loe ketinggian tau ngga”ejek Deva saat Alvin bercerita tentang Shilla pada karibnya.

“Gue ngga becanda Dev. Kalo loe ngga percaya ya terserah sih”

“Sayang, jadi kita jalan ??” tegur seorang menyapa Alvin. Baik Alvin maupun Deva menoleh. Alvin tersenyum menyambut Shilla. Sementara Deva melongo.

“Bener kan kata gue Dev ??” kata Alvin seraya merangkul pinggang Shilla. Deva hanya mengangguk polos. “Ckck…apin apin. Beruntung banget loe”

“Hehe Alvin gitu. Oia Dev, gue mau jalan sama putri gue. loe balik sendiri ya” pamit Alvin. Shilla ikut tersenyum pada teman kekasihnya itu. lalu keduanya melangkah pergi.



Shilla merebahkan kepalanya dibahu alvin. Menikmati air danau yang tenang.

“Shill”
“Ya ?”
“Sampe sekarang aku belum ngerti, kenapa kamu bisa tertarik sama aku ??”
Shilla mendongak, lalu kembali menyandarkan kepanya. “Sejak pandangan pertama. Aku tau kamu beda dari yang lain. Apalagi pas kamu nyelinap ke kamarku. Hmm…sejak saat itu, aku mulai merasa tertarik sama kamu”
Alvin tersenyum.
“Vin” panggil Shilla.
“Ya ??”
“Kamu mau janji satu hal sama aku ??”
“Janji apa ?”
“Temani aku sampai mati. Sampai aku ngga bernafas lagi. Aku mau kamu selalu ada disisiku. Jangan pernah jauh dari aku Vin.aku ngga sanggup kehilangan kamu”
“Aku janji Shill. Demi apapun. Bahkan aku akan ikut mati kalo kamu ngga bernafas lagi” janji Alvin. Shilla tersenyum senang. Kalimat terakhir Alvin ngga dihiraukannya karna Shilla menganggap hanya candaan belaka.

Tiada yang tau keseriusan Alvin saat mengucap kalimat terakhir tadi…

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Sebulan Shilla menjalani hubungan dengan Alvin. secara diam diam karna Shilla tau, keluarganya menginginkannya bersanding dengan Septian. Makin hari Shilla makin tak suka dengan sikap keluarganya yang terlalu mengekang sehingga waktunya berdua dengan Alvin terbatasi.

“Shilla” panggil Alvin sembari mengetuk jendela balkon kamar Shilla.

“Alvin ?? kamu ngapain disini ??” Shilla bertanya sembari membukakan jendela, membiarkan Alvin memasuki kamarnya.

“Ngga papa. Cuma kangen aja. Kita jarang jalan”

Raut wajah Shilla berubah sedih. “Iya Vin. Papa sama mama protektif banget. Aku Cuma dibolehin keluar kalo sama Ka Rio ato Septian. Huaaa aku gasuka”

“Ckck..jangan sedih dong. Aku usahain kita ketemu terus ya” Alvin menarik Shilla kedalam pelukannya. Diusap lembut rambut gadisnya itu.

“Aku kangen kamu Vin”

“Terlebih aku”

Keduanya berpelukan lama sekali. Keduanya bertatapan. Shilla memejamkan matanya. Membiarkan nafas Alvin menyapa wajahnya.

“Non Shill…astagfirullah” seru pembantu Shilla yang membuka pintu dengan tiba tiba. Sontak, Shilla menjauh dari Alvin. Pembantu tersebut keburu melarikan diri.  Shilla dan Alvin gelagapan.

“Gawat, dia pasti lapor sama papa”

“Yaudah aku bakal temenin kamu jelasin semuanya” ucap Alvin.

“Ngga. Mending kamu kabur Vin”

“Tapi Shill..”

“Pliss Vin, aku ngga mau sesuatu yang lebih buruk terjadi. Demi aku Vin” pinta Shilla memelas. Alvin mengangguk, sebelum pergi, dia mencium punggung tangan Shilla. “Aku sayang kamu”

Shilla mengangguk cepat dan kembali menutup pintu balkon setelah Alvin pergi.  Tepat, mama, papa dan Ka Rio datang ke kamarnya.

“Siapa lelaki yang bersama kamu tadi ??” tanya Pak Riko tegas.

“Laki laki ?? ngga..ngga ada siapa siapa kok Pah” elak Shilla.
“Sini, ikut kaka” Rio menyeret lengan adiknya kasar. Mereka semua berkumpul diruang keluarga.

“Kata Bik Rahmi, dia liat kamu lagi sama cowo di kamar ?? siapa cwo itu ?? jawab kaka Shill” tanya Rio keras.

“Sstt..ngga perlu bentak Yo” Bu Angel mengingatkan.

“Tapi ini udah keterlaluan Ma, memalukan. Putri Haling membawa lelaki masuk ke kamarnya. Apa kata orang ??”

“Tapi kami ngga ngapa ngapain ma, pa, ka ??”

“Ngapa ngapain atau ngga, apa pantes seorang perempuan bawa lelaki ke dalem kamarnya ?? siapa sih cowo itu ?”

Shilla tetap ngga mau kasih tau identitas sang pria pada keluarganya.

“Mmm…saya kenal lelaki itu Den” seru Bik Rahmi. Shilla mendecakkan lidah. Semoga dugaan pembantunya itu salah.

“Siapa bik ?”

“Kalo ngga salah dia salah satu pelayan yang kemarin ikut membantu pesta ulang tahun Non Shilla”

“Apa ?? pelayan ?? ciri cirinya gimana ??” tanya Bu angel.

“Mmm…putih, tinggi, matanya sipit nyonya” begitu dengar penjelasan pembantunya, Rio langsung berlari ke kamar Shilla. Mencari barang bukti. Kebetulan, dia melihat sebuah benda mengkilap dilantai yang menganggu penglihatannya. Dipungutnya benda yang ternyata seuntai kalung. Setelah diperhatikan, bancul kalung itu berupa deretan huruf yang membentuk sebuah nama ‘ALVIN’.

“Ini apa Shill ?? jawab kaka, cowo itu namanya Alvin kan ?” tanya Rio seraya menunjukkan temuannya pada Shilla. Shilla ngga mampu mengelak lagi.

PLAKK !!
Tamparan keras tangan Pak Riko mendarat di pipi mulus anak bungsunya itu.

“Itu untuk peringatan, putuskan hubungan kamu dengan anak cattering itu. memalukan. Dia tidak sederajat dengan kita” tegas papanya.

“Shilla ngga butuh materi pa. shilla cinta sama alvin” isak Shilla.

“Shilla !! kamu kena pelet apa sih ?? udah pa, kurung aja. Aku penasaran sama yang namanya Alvin. kaya gimana sih cowo yang udah bikin kamu jadi bandel  gini ??”
“Terserah kalian lah” gadis itu berlari menuju kamarnya. Mengunci pintu dan menangis sepuasnya. Shilla menangis cukup lama. Ini pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta. Dan itu dengan Alvin. Cuma yang disayangkan, kenapa keluarganya tak ada yang mengerti ??

Rio memperhatikan para pekerja yang ada ditempat cattering itu. dia ngga melihat cowo sipit yang dimaksud pembantunya.

“Maaf, den Mario ya ?? ada keperluan apa ?” tanya Bu Hera.
“Saya mau cari pegawai ibu yang namanya alvin”
“Oh ada keperluan apa ya ??”
“mau ngembaliin kalungnya bu” Rio menunjukan kalung Alvin.
“Hari ini dia ngga masuk. Bisa dititipkan saya saja kalungnya”
“Oh ngga perlu Bu, boleh saya minta alamatnya ??”
“Oh tentu. Sebentar ya Den”

Rio tertegun menatapi sebuah rumah yang lumayan besar. Memang ngga sebesar rumahnya. Tapi terlalu mewah untuk ukuran pegawai cattering macam Alvin. Saat ini, Rio tengah terduduk di ruang tamunya. Pembantu rumah itu hendak memanggil Alvin yang sedang tertidur di kamarnya. Ya, adanya pembantu dirumah itu semakin menambah Rio heran. Sambil menunggu, Rio menatapi pigura pigura yang terpajang di dinding. Sebuah keluarga utuh dan tampak bahagia. Seorang ayah dan ibu. Dua orang anak lelakinya. Yang satu mungkin Alvin. tapi yang satunya, membuat dahi Rio berkerut. Tampaknya dia mengenali wajah lelaki disamping Alvin. begitu familiar baginya.

“Ada keperluan apa loe kemari ??” tanya Alvin. Rio langsung mengalihkan pandangannya.
“Ada hubungan apa loe sama adik gue ?”
“Hmm..loe tanya aja sama adik loe yang cantik itu”
“Sebelum gue perpanjang masalah Shilla, gue mau tanya satu hal. Siapa loe sebenernya ??”
“Maksud loe ??”
“Rumah loe gede. Loe punya pembantu. Jelas bukan ukuran seorang pekerja cattering. Loe pasti bukan orang biasa ?”
“Pinter. 100 buat loe. Gue emang bukan sepenuhnya pelayan cattering. Siapa gue ?? kayanya loe ngga perlu tau deh”
“Terserah kalo loe ngga mau kasih tau. Gue bakal nyari tau sendiri. Oia, gue kesini mau bilang sama loe, jangan deketin adik gue lagi.dia terlalu berharga buat cowo busuk kaya loe” pinta Rio.
Alvin tersenyum masam. “Kami udah terikat. Ngga ada satupun yang bisa misahin kami. Tak terkecuali loe. Sekarang gue mau, loe angkat kaki dari rumah gue”
“Oke, najis juga gue kelamaan disini” Rio melangkah pergi walau dalam benaknya masih diselimuti tanda tanya akan siapa lelaki di samping Alvin.

Sepulangnya, Rio berusaha mencari info tentang keluarga Alvin.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Pokoknya kaka ngga mau kamu berhubungan lagi sama Alvin !!”marah Rio.
“Kenapa sih ka ??”
“Kaka tau semuanya tentang dia. Asal usulnya, dia..dia bukan dari keluarga baik baik” ucap Rio. Beberapa hari ini dia memang sibuk mencari info tentang siapa Alvin sebenernya.
“atas dasar apa kaka ngomong begitu ??”
“Kamu tau dia siapa ??” tanya Rio. Shilla menggelengkan kepala.

Rio diam sejenak.

“Ceritakan siapa dia” seru pak Riko dan Bu Angel yang memasuki kamar Shilla.
“Beberapa hari ini Rio nyari info tentang dia. Papa tau ?? Alvin adalah bagian dari keluarga Damanik. Papa inget siapa keluarga itu ??” Rio balik bertanya.
“Apa ?? Damanik ?? NGGA !! ngga ada satupun dari keluarga Haling yang berhubungan dengan keluarga itu. Kalaupun ada, saya akan mencabut posisi kalian sebagai putra dan putri Haling. Itu juga berlaku untuk kamu Shilla !!” tegas Pak Riko.

Shilla diam seribu bahasa. Kedua orang tuanya sudah pergi dari kamarnya. Hanya ada dirinya dan Rio.

“Ka..ceritain ke shilla siapa keluarga Damanik itu ?? Shilla bener bener ngga ngerti” pinta Shilla.

Rio menatap lembut adiknya. “Keluarga Damanik dulu itu sahabat keluarga kita. Kaka juga berteman baik dengan sulung Damanik yang bernama Gabriel Stevent Damanik. Dia kakaknya Alvin. kamu tau ngga ? keluarga Damanik dengan keluarga kita berniat menjodohkan kamu dengan bungsu Damanik”

Mata Shilla membulat. “Alvin ?”

Rio mengangguk. “Ya”

“Terus apa yang terjadi ?”

“Perjodohan itu batal. Krisis ekonomi yang berlangsung saat kalian berusia 5 tahun, membuat keluarga Damanik dan keluarga kita ngga lagi bersahabat. Kami bersaing secara bisnis. Banyak mitra bisnis Damanik yang pindah ke Haling. Begitu pula sebaliknya. Sampai suatu hari. Salah satu perusahaan keluarga Damanik jatuh miskin. Kami, keluarga Haling ngga berniat membantu karna adanya hasutan yang bilang kalau keluarga Damanik itu penipu dan sebagainya”

“Terus ?”

“Sampai kamu dewasa, keluarga Damanik seakan hilang tanpa jejak. Keluarga Haling menutup rapat silaturahmi dengan keluarga Damanik. Kami saling membenci”

Shilla menatap Rio dalam.

“Kaka ngga mau kamu berhubungan dengan alvin karna…”
“Karna apa ka ?”
“Kaka takut dia ngga tulus”
“Maksud kaka ??”
“Mungkin ada niat membalas dendam kepada keluarga kita yang dilakukan Alvin melalui kamu. Dek, kamu itu perempuan, jaga diri kamu baik baik. Rasa cinta kamu sama dia hanya sementara. Kamu keukeh karna lagi kasmaran. Pikirin yang matang dek, mungkin ada lelaki yang jauh lebih baik dari dia” nasihat Rio.
“Tapi Ka, Shilla Cuma cinta sama dia. Mama papa ngga bisa maksa Shilla buat married sama Septian ?”
Rio ngga merespon.
“Kaka sayang Shilla kan ?? kalo gitu kaka bantu Shilla bujuk mama papa supaya perjodohan dibatalkan”

“Maaf dek, itu diluar kemampuan kaka” ucap Rio seraya melangkah keluar kamar Shilla.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Jawab Vin, kamu ngga berniat balas dendam sama keluarga Haling melalui aku kan ??” desak Shilla. Dia berhasil kabur dan langsung menemui Alvin. meminta penjelasan dari asal usul keluarga mereka yang saling membenci.

“Kamu mau jawaban jujur atau bohong ??”

“Jujurlah”

Alvin menghela nafas. “Papa menceritakan semua keburukan keluarga Haling. Dimana keluarga itu sangat angkuh dan sombong. Disaat keluarga kami kesulitan ekonomi, keluarga Haling ngga sekalipun membantu. Malah menghina. Sampai mama, meninggal kelaparan. Aku berjanji, kalo aku udah dewasa, aku akan membalas semua sakit hati itu”

“Lalu ?”

“Walau Ka Gabriel udah menerima semua yang terjadi sama kita, tapi aku dan papa belum. Papa masih memiliki kebencian yang berlipat ganda terhadap keluarga kamu. Begitu juga aku. Makanya pas denger ada pesta ulang tahun di keluarga Haling, aku langsung ngelamar sebagai pelayan yang disediakan jasa cattering. Aku berencana masuk perlahan, menyelinap di keluarga Haling. Membalas sakit hati ini melalui….putri Haling” terang Alvin.

“Apa ?? jadi kamu…”

“Dengerin dulu Shill, aku belum selesai bicara”

“NGGA. Aku..aku ngga nyangka cinta kamu ngga tulus sama aku. Aku kecewa Vin..kecewa banget !!” kata Shilla sebelum akhirnya melangkah pergi. Tapi Alvin lebih cepat mencegahnya. Dipeluknya gadis itu dari belakang.

“Tapi setelah aku liat kamu, liat pesona kamu, kecantikan hati dan wajah. Aku luluh Shill. Semua dendam dan rencana busuk pupus seketika. Aku bener bener cinta sama kamu. Aku ngga boong Shill. Ngga akan pernah aku biarin dendam ini melukai kamu. Aku mohon percaya sama aku Shill” mohon Alvin.

Shilla membalikan posisinya menghadap Alvin.

“Kamu…kamu serius ??”
“Ya, liat mata aku. Ngga ada kebohongan kan ??” Shilla tersenyum dan memeluk lelakinya.
“Bawa aku pergi Vin”
“Apa ??”
“aku ngga tahan terus dikekang sama keluargaku. Aku ngga bisa dapet kebahagiaan sejati ditengah keluargaku”
“Tapi kabur kemana ??”
“Ke rumah kamu ??”
“Ngga Shill. Aku ngga mau masalah ini makin rumit. Jalani aja secara sembunyi sembunyi. Aku yakin kita pasti bisa”
“Tapi Vin, aku…”

“SHILLA !!” panggil seseorang. Keduanya menoleh. Rio !!

“Ka Mario”

“Ohh…rupanya kamu disini ?? sama lelaki bajingan ini ??”

“Ka, jangan sebut Alvin kaya gitu”

“Argh !! terserah. Pokoknya kamu harus pulang !!”

“Shilla ngga mau ka, Shilla maunya sama Alvin” Rio mencengkeram tangan Shilla kasar.

“Heh, jangan pake cara kasar dong. Lepasin dia !! loe sama aja nyakitin Shilla” cegah Alvin. Rio melepasnya. Mendekati Alvin.

“Kayanya emang loe yang musti dikasarin ya” Rio mengelus kepalan tangannya. Meniupnya sebelum dilayangkan ke pipi Alvin. BUKK..hingga Alvin tersungkur.

“Ka udah Ka”

“Jangan pernah ganggu adik gue. sampai kapanpun, keluarga Damanik dan Keluarga Haling ngga akan pernah menyatu. Inget baik baik” ucap Rio sebelum pergi membawa Shilla. Alvin menatapi punggung putra Haling itu. matanya membara. Tangannya mengepal. Sebenarnya bisa saja dia balas memukul Rio. Tapi dia ingat ada gadisnya ditempat ini. Dia ngga mau membuat Shilla ketakutan dan men-cap-nya sebagai lelaki brandal yang gemar berkelahi.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

PLAK !
Rio menampar Shilla begitu keduanya sampai di ruang keluarga. Pak Riko dan bu Angel menghampiri putra putrinya.

“Ada apa ini ??”
“Shilla bandel banget Pah. Papa tau ?? dia kabur untuk nemuin bungsu Damanik. Rio liat mereka lagi pelukan ditaman” lapor Rio.
“Memalukan” geram Pak Riko.
“Pah..pah Shilla mohon jangan larang Shilla Pah”
“Cara satu satunya supaya lelaki bajingan itu menjauh dari kamu, adalah…mempercepat perjodohan kamu dengan Septian” putus Pak Riko.
Semua terbelalak terlebih Shilla. “Apa ??”
“Ya, papa akan bicara kepada kelurga Septian. Papa yakin mereka ngga keberatan. Perjodohan akan diresmikan minggu depan. Tanpa pertunangan”
“Maksud papa, langsung married ??” tanya Rio.

Pak Riko mengangguk tegas.

“Pah Shilla ngga mau sama Tian Pah, jangan paksa Shilla…Shilla mohon” pinta Shilla seraya memeluk kaki papanya. Bu Angel dan Rio hanya diam.

“Pah, papa pernah kan ngerasain yang namanya cinta sama mama ?? Shilla mohon papa ngerti. Shilla cinta mati sama alvin pah” isak Shilla.

“Sayangnya kamu jatuh cinta pada anak dari keluarga yang sangat papa benci” lirih Pak Riko sembari meleaskan pegangan Shilla di kakinya. Bu Angel membawa Shilla ke kamar. Dikuncinya dari luar.

Berhari hari Shilla terkunci di kamarnya. Pernikahannya mulai mendekati waktunya. 2 hari lagi. Sejak terkurung 5 hari lalu, gadis itu terus merenung. Makan pun harus dipaksa Rio atau Bu Angel. Sehari harinya Shilla melamun dengan duduk dimeja riasnya, menghadap balkon. Berharap Alvin menaikinya seperti waktu waktu sebelumnya. Tapi tak mungkin…papanya sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk menjaga Shilla. Dibawah balkon pun berdiri 5 orang penjaga. Shilla makin tersiksa dengan ini.

Rio menatap Adiknya iba. Sebenarnya hati putra Haling ini tak sekeras yang dibayangkan. Rio akan luluh jika berurusan dengan adiknya. Walau dia biasa menggunakan kekerasan fisik jika marah. Tapi itu semua Rio lakukan untuk kebaikan sang adik.

Kini, pikirannya mulai bimbang tak terkontrol. Hatinya tak bisa membiarkan adik yang paling disayanginya sekarang dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Tapi dia juga ngga bisa berbuat banyak. Keputusan papanya adalah keputusan yang harus dituruti oleh siapapun. Tak ada yang bisa dan sanggup membantah. Bahkan ibunya sendiri.

“Dek…” panggil Rio pelan. Shilla menoleh, lalu mengembalikan kembali pandangannya.
“Shilla pengen alvin ka”
“Kaka tau. Tapi kaka bisa apa untuk bantu kamu ?? pernikahan udah didepan mata. Persiapan udah 98%. Ngga mungkin dibatalin” ujar Rio.
“Kaka bisa bantu selain itu”
“Apa ?? bilang sama kaka, apa yang bisa kaka bantu”
“Sampein Alvin kalo tentang pernikahan ini Ka. Bilang juga ke dia kalo Shilla mencintai dia sampe Shilla mati”
“Iya. Kaka janji pesan kamu bakal sampai ke Alvin”
“Makasih ya ka”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Rio berdiri didepan rumah keluarga Damanik. Rumah yang sebelumnya Rio berjanji untuk ngga akan menginjakkan kakinya lagi. Tapi demi sang adik, Rio melanggar janjinya.

Bel sudah ditekan. Terdengar derap langkah dari dalam yang tampaknya hendak membukakan pintu.

“Mario ??” tegur seseorang.

“Ga..Gabriel ??” sapa Rio ragu.
“Iya. Gue Gabriel. Iel. Loe…loe ??”

Belum sempat Gabriel menyelesaikan kata katanya, Rio merendahkan dirinya. Berlutut sambil menundukkan kepalanya.

“Yo, loe mau ngapain ?”

“Maafin gue dan keluarga gue Yel. Kami salah besar sama keluarga loe” ucap Rio. Gabriel tersenyum dan membantu Rio berdiri.

“Kami udah maafin. Gue, papa, dan…Alvin”

“Thanks ya Yel. Keluarga loe jauh lebih baik dari keluarga Haling yang angkuh”

Gabriel mengangguk dan mempersilakan Rio masuk.

“Ada keperluan apa ??”tanya Iel.
“Gue nyari alvin. adik loe”
“Alvin ?? emang ada apa ?? oh..gue udah tau tentang kisahnya sama Putri Haling. Apa ada hubungannya dengan adik loe ?”
Rio mengangguk. “Ada yang mau gue bicarain sama dia. Pesen dari adik gue. mana Alvin ??”
“Bentar gue panggilin dulu” Gabriel bangkit. Tak lama, dia turun. Terlihat Alvin mengekornya.

“Mau apa loe ??” tanya Alvin sinis.
“Gue..gue dateng kesini mau nyampein pesennya Shilla”
“Shilla ?? kenapa sama dia ??” tanya Alvin panik. Rio menjelaskan semua yang terjadi dengan Shilla. Gabriel menepuk punggung adiknya. Sementara Alvin meremas kepalanya begitu Rio mengakhiri ceritanya.

“Gue harus gimana ??”
“Maaf Vin, tapi loe udah terlambat. Pernikahan dilaksanakan 2 hari lagi” tutur Rio.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Alvin berjalan terseok seok. Langkahnya tak tentu arah. Tangannya menggenggam sebuah botol. Kesadarannya dikuasai oleh alkohol sepenuhnya. Alkohol. Jalan tengah yang dicapai alvin untuk menghilangkan stressnya sejenak. Waktunya hanya tinggal sehari lagi. Setelah itu, dia akan kehilangan gadisnya. Selamanya.

Brukk..

Alvin tak kuat menahan kesadarannya.  Badannya ambruk. Sayangnya, Alvin jatuh menimpa seorang wanita yang tengah berjalan bersama kekasihnya. Sang pria tak terima gadisnya ditimpa lelaki lain.

“Hoii..nyari ribut loe. Bangun loe” kekasih gadis itu menarik baju Alvin dan menghadiahi bogem mentah pada lelaki setengah mabuk itu. Alvin bangkit. Bukan untuk membalas pukulan cowo itu, tapi malah justru memeluk gadis yang tadi ditimpanya itu. alvin melihat gadis itu sebagai Shilla. *maklum, lagi mabuk*

“Shill, jangan tinggalin aku Shill. Aku sayang banget banget sama kamu” igau Alvin. tingkahnya semakin membuat pria kekasih wanita itu kebakaran jenggot. Ditariknya kembali baju Alvin hingga melepaskan pelukannya.

“Rese loe !!”

BUKK !! Alvin jatuh. Posisinya terlentang. Si cowo masih semangat menghajar Alvin. botol di tangan alvin menggelinding. Si pria terus menerus meninju muka Alvin. pria itu setengah jongkok diatas Alvin yang masih dengan posisi tertidur. Orang orang disekitarnya hanya menyemangati. Darah segar mengalir dari pelipis, hidung dan ujung bibir Alvin. mungkin karna kelelahan ditambah rasa sakit, Alvin mengumpulkan tenaganya, kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Samar samar dia melihat botol yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. Tangannya sibuk menggapai benda tersebut. DAPAT !! ancang ancang, Alvin arahkan botol itu kearah lawannya.

PRANGG !!
Pelipis lelaki tersebut mengeluarkan darah segar. Lelaki itu tak lagi subuk menghajar Alvin. dia memegangi kepalanya dan ambruk, tertidur di samping Alvin. Semua penonton diam. Kekasih pria itu histeris.

“Ada polisi” teriak salah seorang kala mendengar suara sirine polisi. Alvin meremas kepalanya. Kesadarannya perlahan kembali dan baru dia sadari apa yang dia lakukan. Dia sudah membunuh lelaki itu. ya, MEMBUNUH !

“Sial” umpat Alvin. dia sadari waktunya ngga banyak. Alvin bangkit dan mengambil langkah seribu. Perbuatan yang tanpa pemikiran itu akan membuatnya menjadi buronan polisi.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Benar saja, di koran, berita di TV pun menyiarkan ciri ciri orang yang tengah dicari polisi. Keesokan harinya berita itu diumumkan. Alvin salah satunya. Disana dijelaskan bahwa polisi menemukan sidik jari Alvin pada tubuh korban. Untung saja papanya ngga ada dirumah. Hanya ada Gabriel.

“Gue harus gimana Yel ?? gue ngga mau dipenjara”  ucap Alvin.
“Salah loe. Ngga seharusnya loe lakuin itu”
“Gue harus kabur sebelum polisi dateng ke rumah ini” kata Alvin. Gabriel hanya bisa mendukung keputusan adiknya.
“Ati ati ya Vin. Tapi loe kudu inget, ada waktunya loe mempertanggungjawabkan semuanya. Loe ngga bisa terus terusan lari dan dikejar dosa” pesen Iel.
“Ya Yel. Gue janji gue akan nyerahin diri. Tapi nanti, setelah gue pastiin kalo Shilla belum jadi milik siapapun” ucap Alvin sebelum pergi. Kaka adik itu berpelukan. Tampaknya ini saat terberat dalam hidup Alvin.


Sementara keluarga Haling..

“Nah, bertambah buruk image keluarga Damanik ketika si bungsu menjadi buronan” komentar Pak Riko.
“Ckck..untung anak kita udah mau nikah sama orang yang tepat ya Pah” tambah Bu Angel.
Rio memandangi berita Alvin dengan datar. Dia yakin Shilla ngga mengetahuinya karna memang, dikamar Shilla ngga disediakan fasilitas televisi. Rio memutuskan untuk menelpon Gabriel.

“Gimana sama Alvin yel ??” tanya Rio ditelpon.
“Dia kabur tadi pagi Yo”
“Kemana ?”
“Gue kurang tau. Tapi yang jelas, nanti malem kayanya dia bakal nemuin Shilla. Dia janji mau nyerahin diri setelah ketemu sama gadisnya itu”
“Oh gitu ?? oke deh, gue bakal bantu supaya Alvin bisa ketemu Shila”
“Oke. Thanks ya Yo”
“Sama sama Sob”


“Ma, Pah, Rio mau kasih makan siang dulu untuk shilla” ijin Rio dengan membawa nampan ditangannya. Sebagai alasan supaya dia bisa bertemu dengan adiknya.

Pak Riko mengangguk dan menyerahkan kunci kamar Shilla.

“Dek” lirih Rio. Ditaruhnya nampan diatas meja rias.
“Kaka punya kabar tentang Alvin” dengar nama Alvin disebut, mata Shilla berbinar binar.
“Ada apa Ka ??”
“Mmmm..tapi kamu jangan kaget ya ??” Shilla mengangguk cepat.
“Alvin..semalem dia mabuk. Secara ngga sadar, dia meluk cewe. Cowonya ngga terima dan mukulin Alvin. Alvin juga ngga terima. Dia pukul kepala cowo itu pake botol. Dan akibatnya…si cowo meninggal. Dan Alvin..Alvin jadi buronan polisi” jelas Rio.
“Apa ?? kaka ngga becanda kan ??” Rio menggeleng.
“Kamu dan dia ngga akan pernah menyatu selamanya. Papa mama udah tau berita ini. Seluruh orang udah tau. Sekarang image Alvin adalah seorang buronan pembunuh”
Mata Shilla berkaca kaca. “Ka…yakinin Shilla kalo ini Cuma mimpi”
Rio mengusap rambut adiknya. “Kamu harus yakin Dek, suatu saat pasti ada kebahagiaan untuk kamu, dan Alvin”
“Tapi kapan ka ?? besok, Shilla nikah sama orang yang ngga pernah Shilla cintai. Udah ngga ada waktu ka”
Rio tersenyum. “Sabar aja ya”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Alvin memutuskan untuk membeli air mineral guna membasahi kerongkongannya yang sejak tadi pagi belum diisi air. Alvin berjalan sejauh dia mampu. Melewati perkampungan sempit untuk mengindari penciuman polisi.

“Bu, air satu” pinta Alvin pada ibu ibu pemilik warung kopi.
“Ini Mas. 3rb” Alvin menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Diteguknya air itu. tiba tiba datang dua orang berpakaian polisi yang duduk di warung itu. untung posisi Alvin membelakangi mereka.
“Bu, kopi dua” seru salah seorang polisi. Alvin ingin sekali kabur. Tapi uang kembaliannya masih ada di ibu penjual. Dia harus berhemat dan ngga boleh menyiakan uangnya sekecil apapun.
“bentar ya mas. Saya ngga punya uang kecil” ujar si ibu. Alvin mendecakkan lidah.
“Aduh gila. Stress gue ngejar buronan semalem. Udah kita obrak abrik rumahnya tapi ngga ketemu juga. cerdik banget tuh orang” ujar salah satu polisi. Alvin paham bahwa yang dimaksud adalah dirinya.

“Haha untung gue kebagian jatah malem ini. Jadi bisa sambil santai” timpal yang seorang lagi.

Dalam hati Alvin berdoa agar si ibu cepat memberikannya kembalian dan dirinya bisa segera enyah dari tempat ini.

“Mas, ini kembaliannya”  seru si ibu. Alvin ragu untuk mengambil karna posisi ibu penjual dekat dengan kedua polisi itu. bisa bisa mereka mengenali wajahnya.

“Mas ?? ini kembaliannya. 47 ribu” seru ibu sekali lagi. Kedua polisi itu diam, memperhatikan alvin. Alvin sadar dirinya mulai dicurigai, dia ambil uang itu dengan cepat lalu segera melangkah pergi.

“Tunggu” cegah salah satu polisi. Alvin berhenti. ‘mampus gue’ batinnya.

“Kayanya saya kenal deh sama muka mas” ujar sang polisi. Alvin menoleh sedikit. Samar samar dia lihat si polisi hendak menghampirinya. Sebelum terlambat, Alvin ambil langkah seribu.

“Hoii jangan lari !!”

“Heh, loe kenal dia ??” tanya seorang polisi temannya.

“Iya, dia buronan yang kita cari. Gue tau pasti”

“Oh kalo gitu ayo kita kejar” sialnya, polisi itu memberitahu kepada rekan rekannya bahwa mereka telah menemukan Alvin. lebih bodohnya, Alvin malah justru berlari ke jalan yang sepi. Dari arah berlawanan, seorang polisi yang beru datang berhasil mencegat langkahnya dan mengeluarkan pistol saat melihat ancang ancang Alvin hendak kabur.

DOR !

Sayangnya, peluru senapan bukan tertanam di kaki mangsa, tapi pada dada Alvin. Mungkin peluru hampir bersemayam di jantung Alvin. entah apa dasar polisi tersebut menembak dada Alvin. untungnya Alvin masih punya tenaga untuk menyembunyikan dirinya. Berlari pelan. Sang polisi berusaha mengejarnya. Disusul polisi lain. Tapi gerakan alvin lebih cepat walau dengan kondisi terluka. Dia berhasil membawa dirinya di semak semak gelap. Satu tangannya menutup dada yang terus mengalirkan darah segar. Seorang polisi berjalan kearah persembunyiannya. Alvin berusaha keras menyembunyikan rasa sakitnya agar sang polisi ngga tau kalau dirinya ada disitu. Begitu si polisi membelakanginya, barulah Alvin bangkit dan memukul tengkuk polisi itu hingga pingsan. Alvin ambil senjata polisi berupa pistol. Dia cek, pelurunya masih penuh.

Alvin berjalan pelan keluar persembunyian. Bagai memasuki kandang macan, polisi polisi itu sudah mengetahui keberadaan alvin dan siap menangkap Alvin.

DOR !

Alvin melayangkan tembakan keatas udara saat para polisi melangkah.
“Jangan ada yang berani mendekat. Jumlah peluru didalem masih penuh. Cukup untuk memasuki jantung kalian masing masing” ancam Alvin.

“Santai..apa mau kamu ??” salah seorang polisi bertanya.

“Saya mau, kalian berbalik. Saya bukan tipe orang pengecut. Saya berjanji, besok pagi saya akan menyerahkan diri” janji Alvin.

“Kami ngga bisa memegang janji kamu”

DOR !

“Saya ngga pernah main main” ucap Alvin setelah melayangkan tembakan kedua ke udara. Demi keselamatan bersama, mau tak mau para polisi berbalik dengan bekal janji Alvin.

Tinggalah Alvin sendiri. Dia teruskan berjalan ke tempat tujuannya. Darah segar membasahi kemeja putihnya. Setelah dirasanya aman, pemuda itu menyimpan pistolnya kedalam saku celana.

Di tempat lain…

Rio sudah membubuhi obat tidur dalam makan malam para penjaga yang ada di bawah balkon. Begitu pula yang berjaga di pintu gerbang. Itu dia lakukan supaya Alvin bisa menyelinap ke kamar Shilla tanpa diketahui penjaga.

Jam 20.15

Rio menunggu. Belum ada tanda tanda kedatangan Alvin. diam diam dia tersenyum. Rio senang bisa membantu Alvin dan adiknya walau sedikit. Setidaknya ini sebagai penebus kesalahannya dulu. Walau dia tau, belum seberapa.

5 menit kemudian, Rio menangkap sosok Alvin yang berjalan terseok seok dengan tangan memegang dadanya yang terluka. Begitu Alvin melihat dirinya, Rio tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Dengan sisa tenaga yang sudah terkuras habis, Alvin berusaha keras menaiki kamar Shilla dengan bergantung pada akar. Seperti biasanya.

“Argh !!” lirih Alvin yang langsung ambruk begitu mencapai balkon. Shilla yang sedang melamun sntak menghampiri Alvin.

“Astaga Vin..dada kamu kenapa ??” Alvin ngga menjawab. Shilla memapah kekasihnya dan membaringkannya di tempat tidur. Gadis itu memberikan Alvin segelas airputih.

“Vin..Alvin jelasin sama aku apa yang terjadi sama kamu ??” tanya Shilla panik. Kemeja putih Alvin telah berubah warna menjadi warna darah.

Alvin berusaha tersenyum ditengah rasa sakitnya. Dibelainya rambut sang gadis.
“Aku ngga papa Shill”

“Ngga papa gimana ?? liat, kamu luka parah. Kenapa ngga ke rumah sakit aja sih ?? malah kesini ?” sesal Shilla.

“Aku pengen ketemu kamu untuk yang terakhir kalinya Shill, sebelum kamu menjadi milik orang lain. Besok” lirih Alvin.

Shilla menggeleng. “Ngga. Aku Cuma milik kamu. Aku gasuka sama Septian atau pria manapun. Cuma kamu yang ada dihati aku Vin”

Kedua tangan mereka saling menggenggam.

“Tapi aku ngga bisa bahagiain kamu Shill, aku ngga pantes untuk kamu..aku..”

“Sssttt..” Shilla menaruh telunjuknya dibibir Alvin. gadis itu ikut berbaring di samping Alvin. kepalanya bersandar didada Alvin. tangannya masih menggenggam tangan kekasihnya.

“Ngga ada yang bisa menilai apakah kamu pantes sama aku atau ngga. Cuma aku yang tau Vin. Aku sayang sama kamu. Apapun yang terjadi, aku janji kita akan selalu bersama” ujar Shilla. Ngga ada jawaban dari Alvin. awalnya Shilla ngga memikirkan. Mungkin Alvin terlalu sakit untuk menjawab kata katanya. Tapi begitu mendengar detak jantung Alvin, Shilla mulai merasa ganjil. Detakan jantung yang terdengar jelas oleh telinga Shilla.

Detakan jantung tersebut melemah. Dan berhenti sama sekali. Segera Shilla mengangkat wajahnya, menghadap Alvin. dilihatnya sang kekasih tengah terlelap abadi.

“Vin..Vin bangun Vin, jangan tinggalin aku. Alvin..Alvin buktiin janji kita. Kita harus selalu bersama Vin” seru Shilla sembari menggoyangkan tubuh kekasihnya. Alvin meninggal. Karna kehabisan darah.

Shilla menyadari kalau tak ada gunanya membangunkan Alvin. dia telah tiada. Shilla menangis sejadi jadinya. Rasanya separuh jiwanya telah pergi. Terbang entah kemana. Tapi tak pernah menjauh darinya. Shilla melihat sebuah benda yang terlihat dari saku celana kekasihnya. Dahi gadis itu berkerut. Diambilnya benda itu yang ternyata sebuah pistol. Shilla menatap pistol dan Alvin secara bergantian.

“Inget janji kamu waktu kita di danau Vin. Kamu bakal ikut mati kalau aku mati. Dan sekarang, aku..aku bisa merasakan betapa seriusnya perkataan kamu. Ngga ada gunanya aku hidup bila ngga ada kamu Vin. Kamu belahan jiwaku. Kita ditakdirkan bagai romeo juliet. Sehidup semati. Aku..mencintaimu sampai mati Vin” lirih Shilla. Tangan kanannya menggenggam pistol. Sementara tangan kirinya masih dalam pelukan tangan Alvin.

Perlahan. Shilla pejamkan matanya. Hatinya sudah mantap melakukan ini. Walau terkesan bodoh, tapi Shilla tak peduli. Baginya, nafas Alvin adalah nafasnya. Darah Alvin adalah darahnya…

DOR !!

Mendengar suara gemuruh, semua keluarga Haling yang sibuk mempersiapkan acara esok, sontak berlari ke kamar Shilla yang diyakini sumber suara itu. Mereka ternganga, begitu melihat apa yang terjadi didalam kamar putri Haling.

Shilla, menembak otaknya dengan pistol yang dibawa Alvin. dan ditemukan tewas dalam dekapan sang kekasih yang telah lebih dulu tiada..

Cinta mereka benar benar abadi..

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar